INformasinasional.com, Pasaman Barat–Pasaman Barat tidak merayakan ulang tahun dengan pesta. Yang terdengar hanyalah lantunan zikir, doa-doa yang bergetar, dan isak yang tertahan. Di halaman Kantor Bupati Pasaman Barat, Rabu (31/12/2025) malam, masyarakat berkumpul membawa satu perasaan yang sama: duka, harap, dan kepasrahan kepada Allah SWT.
Tabligh Akbar dan zikir bersama yang digelar Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat menjadi ruang sunyi bagi ribuan hati yang masih terluka. Menyambut Hari Jadi Pasbar ke-22 yang jatuh pada 7 Januari 2026, sekaligus memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah, acara ini berubah menjadi munajat massal pascabencana banjir dan longsor yang merenggut nyawa serta menghancurkan rumah-rumah warga.
Dibarisan depan, tampak Bupati Pasaman Barat Yulianto bersama Wakil Bupati M. Ihpan, Sekda Pasaman Barat Doddy San Ismail dan unsur Forkopimda. Wajah-wajah mereka memantulkan kelelahan sekaligus empati. Beberapa hari sebelumnya, mereka turun langsung ke lokasi bencana, menyaksikan lumpur, puing, dan cerita kehilangan yang tak mudah diucapkan dengan kata-kata.
Dalam sambutannya, suara Bupati Yulianto terdengar berat. Tidak ada euforia ulang tahun. Yang ada hanyalah kejujuran seorang pemimpin dihadapan rakyatnya.
“Kehilangan nyawa dan harta benda ini adalah duka kita bersama,” ucapnya lirih. Kalimat itu menggantung diudara, disambut hening panjang. Seolah seluruh Pasaman Barat berhenti bernapas sejenak.
Ia mengajak seluruh hadirin menundukkan kepala, memanjatkan doa bagi para korban yang telah pergi, serta mereka yang kini hidup dalam bayang-bayang kehilangan.
“Semoga Allah SWT menerima amal ibadah saudara-saudara kita yang wafat dan mengganti kehilangan masyarakat dengan yang lebih baik,” katanya.
Tabligh Akbar ini, kata Yulianto, bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah wujud syukur ditengah cobaan, sekaligus ikhtiar batin agar daerah yang dijuluki Bumi Mekar Tuah Basamo dijauhkan dari bala dan bencana.
“Kita ingin Pasaman Barat bangkit. Bangkit dengan iman, dengan kebersamaan, dan dengan doa,” tegasnya.
Hadir sebagai penceramah, Ustaz Arif Habibi Batubara dari Medan menyampaikan tausiyah yang menembus relung hati. Ia mengingatkan bahwa Isra Mikraj adalah perjalanan iman, tentang kesabaran, ketaatan, dan keyakinan penuh kepada Allah SWT.
Musibah, menurutnya, adalah ujian yang menguji seberapa kuat manusia bersandar kepada Tuhannya.
“Bencana bukan akhir segalanya. Ia adalah panggilan agar kita kembali, memperbaiki diri, dan memperkuat iman,” tuturnya, dihadapan jamaah yang larut dalam zikir.
Malam kian larut. Zikir terus mengalun. Dilayar gawai, masyarakat yang tak hadir langsung mengikuti acara ini melalui siaran YouTube Diskominfo Pasbar Channel. Dari rumah-rumah sederhana, dari pengungsian, dari tempat yang pernah terendam banjir, doa-doa itu bertemu disatu titik.
Diusia ke-22, Pasaman Barat berdiri bukan dengan tawa, tetapi dengan air mata dan harapan. Sebuah daerah yang sedang belajar bangkit, sambil memohon: semoga luka ini menjadi jalan menuju kekuatan, dan duka ini diganti dengan keberkahan.
Reporter: SYAFRIZAL






Discussion about this post