INformasinasional.com, LANGKAT — Trauma itu belum sempat sembuh. Luka banjir besar 26 November 2025 masih basah di ingatan warga Langkat ketika air kembali datang diam-diam, lalu menghantam. Jumat dini hari, 2 Januari 2026, hujan deras dihulu Sungai Batang Serangan kembali menagih kelalaian, air meluap, rumah-rumah terendam, dan kepanikan pun berulang.
Kecamatan Sawit Seberang, Padang Tualang, Gebang hingga Kota Tanjung Pura kembali dikepung banjir. Ketinggian air disejumlah titik menembus lebih dari satu meter. Sungai Batang Serangan meluap tanpa ampun, menelan pemukiman warga yang bahkan belum selesai membersihkan lumpur banjir sebelumnya.
DiKecamatan Gebang, air menggenangi Kelurahan Pekan Gebang, Air Hitam, Paya Bengkuang, hingga Desa Paluh Manis. Namun kali ini, banjir tak lagi sekadar soal hujan. Ia menjelma menjadi potret telanjang kelalaian dan pembiaran.

Warga menuding satu biang utama, penutupan parit PU selebar 2,5 meter disamping Polsek Gebang.
Parit vital itu sengaja ditutup oleh M Ata, mantan Kepala Desa Sangga Lima yang kini disebut-sebut menjabat sebagai manajer GAS di Desa Air Hitam. Penutupan dilakukan tanpa izin pemerintah dan tanpa persetujuan warga Lingkungan IV Pekan Gebang.

Akibatnya fatal. Air tak lagi punya jalur. Ia berbalik arah, meninggi, melompati Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), lalu menumpahkan diri kerumah-rumah warga.
“Ini bukan musibah alam semata, ini akibat pembiaran,” kata Misno dan M Yusuf, warga Gebang, Jumat siang.
“Pak Lurah Selamat Sahri diduga orang dekatnya Pak Ata. Jadi diam. Camat Gebang Sofyan Tarigan juga tahu masalah ini sejak banjir 26 November lalu, tapi tak bernyali bertindak,” ujar mereka. Tudingan itu menohok, negara kalah oleh kepentingan individu, sementara warga dipaksa menanggung akibatnya.
Di Sawit Seberang dan Tanjung Pura, kecemasan menjalar cepat. Trauma yang belum lekang kembali menyeruak.
“Pusing, Bang. Baru selesai bersih-bersih rumah, air datang lagi,” keluh Su (40), warga Tanjung Pura.
“Jalan Bata dan Jalan Pemuda sudah tergenang. Kantor PLN dan SMP juga sudah terendam. Gimana kami tak risau?” katanya lagi.
Pantauan dilapangan menunjukkan air telah menggenangi Desa Alur Gadung (Sawit Seberang), Desa Buluh Telang (Padang Tualang), hingga pusat Kota Tanjung Pura. Air mulai merangsek masuk kerumah-rumah warga, merendam fasilitas publik, kantor PLN, sekolah, dan jalan utama.
Kondisi ini diperparah oleh drainase perkotaan yang tersumbat. Banyak saluran air ditutup pemilik ruko tanpa lubang kontrol. Sampah menumpuk, air tersendat, dan kota pun berubah menjadi kolam raksasa setiap hujan turun deras.
Kepala BPBD Langkat, Ansyari, mengatakan pihaknya terus melakukan upaya pengeringan air melalui waduk dan mengimbau warga tetap waspada.
“Kami minta masyarakat saling bertukar informasi dan siaga,” katanya singkat.
Namun bagi warga, imbauan tak lagi cukup. Mereka menuntut tindakan nyata. Pemerintah Kabupaten Langkat didesak segera membenahi dan merenovasi drainase perkotaan Tanjung Pura serta menindak tegas pihak-pihak yang menutup saluran air secara ilegal. Tanpa itu, banjir akan terus menjadi tamu tahunan, atau bahkan bulanan.
Jika drainase Pekan Tanjung Pura dan Gebang dibiarkan rusak dan disabotase, warga tak pernah benar-benar selamat dari genangan. Hujan sedikit saja, air akan kembali datang. Dan trauma itu akan terus diwariskan, dari satu musim ke musim berikutnya. (Zaid Lubis)






Discussion about this post