INformasinasional.com, LANGKAT— Tahun baru belum genap berganti pekan, namun Pemerintah Kabupaten Langkat tak memilih berjalan perlahan. Dihari pertama kerja tahun 2026, Bupati Langkat H Syah Afandin SH, langsung menginjak pedal gas. Fokusnya satu, memastikan luka pascabencana hidrometeorologi yang menerpa sejumlah wilayah Langkat segera ditangani, bukan sekadar ditambal.
Diruang rapat Sekretaris Daerah Kabupaten Langkat, Jumat (2/1/2026), Syah Afandin memimpin rapat koordinasi yang sejak awal bernada serius. Bukan rapat seremonial awal tahun. Ini rapat tentang rumah, tentang masa depan warga yang kehilangan tempat tinggal, dan tentang kehadiran negara ditengah bencana.
Pemerintah Kabupaten Langkat, kata Syah Afandin, telah menyiapkan lahan seluas kurang lebih lima hektar untuk pembangunan hunian tetap (huntap) terpadu bagi warga terdampak bencana. Hunian itu bukan sekadar bangunan pengganti, melainkan kawasan relokasi yang dirancang aman, tertata, dan berkelanjutan.
Dua lokasi telah disiapkan, Brandan Barat dan Batu Malenggang, Kecamatan Hinai. Pemilihan lokasi, menurut Bupati, bukan keputusan serampangan. Ada kalkulasi risiko bencana, kesiapan lahan, hingga akses terhadap fasilitas umum dan pelayanan dasar yang menjadi pertimbangan utama.
“Relokasi bukan sekadar memindahkan warga dari satu titik ke titik lain. Ini soal memastikan mereka hidup lebih aman, lebih layak, dan tidak lagi dihantui ancaman bencana yang sama,” kata Syah Afandin dengan nada tegas.
Bagi pemerintah daerah, pembangunan huntap terpadu ini merupakan pernyataan sikap, negara tidak boleh absen setelah bencana berlalu dan sorotan publik meredup. Hunian tetap, kata Syah Afandin, suatu bentuk tanggung jawab jangka panjang, bukan solusi instan yang selesai diatas kertas.
Skema huntap terpadu yang dirancang Pemkab Langkat mencakup penataan kawasan secara menyeluruh. Tidak hanya rumah, tetapi juga sarana dan prasarana pendukung: akses jalan, fasilitas umum, hingga ruang hidup yang memungkinkan warga kembali bekerja, bersekolah, dan menjalani kehidupan secara produktif.
“Yang kita bangun bukan hanya dinding dan atap, tetapi harapan. Warga harus bisa kembali bangkit, bukan sekadar bertahan,” katanya.
Rapat koordinasi tersebut juga membedah langkah-langkah teknis lanjutan, mulai dari pembagian peran antar perangkat daerah, penyesuaian regulasi, hingga skema pendanaan. Pemkab Langkat menegaskan pentingnya sinergi dengan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, agar pembangunan huntap tidak tersendat ditengah jalan.
Awal 2026 menjadi penanda sikap Pemerintah Kabupaten Langkat, bergerak cepat, bekerja senyap, dan berupaya memastikan bencana tidak lagi meninggalkan trauma berkepanjangan bagi warganya. Ditengah cuaca yang kian tak menentu, satu pesan ditegaskan, pemulihan tak boleh menunggu waktu yang “tepat”. Ia harus dimulai sekarang.(Misno)






Discussion about this post