INformasinasional.com, BANDUNG — Siang yang mestinya biasa di Jatinangor berubah menjadi petaka. Tanah di Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, tiba-tiba bergerak dan runtuh pada Jumat (2/1/2026) sekitar pukul 14.30 WIB.
Dalam hitungan detik, material longsoran menimbun permukiman warga, enam orang terseret kedalam perut bumi. Belum jelas apa pemicu utama longsor. Namun hujan yang kerap mengguyur kawasan ini, ditambah kontur tanah labil dilereng-lereng Jatinangor, kembali menegaskan rapuhnya bentang alam yang selama ini dipaksa menanggung beban permukiman dan aktivitas manusia.
Pranata Humas BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat, mengonfirmasi jumlah korban. “Yang tertimbun enam jiwa. Dua berhasil selamat, empat lainnya masih dalam pencarian,” ujar Hadi saat dihubungi.
Dua korban selamat itu, menurut petugas, ditemukan dalam kondisi luka-luka dan langsung dievakuasi untuk mendapatkan perawatan.
Dilokasi kejadian, aparat gabungan BPBD, TNI, Polri, relawan, dan warga setempat berjibaku. Alat berat dikerahkan, sekop dan cangkul tak henti bergerak. Namun medan licin dan ancaman longsor susulan membuat proses evakuasi berjalan perlahan, waktu menjadi musuh, sementara harapan dipertaruhkan.
Peristiwa ini kembali membuka luka lama, soal tata ruang dan mitigasi bencana dikawasan rawan longsor. Jatinangor bukan nama asing dalam daftar wilayah rentan. Setiap musim hujan, alarm bahaya seolah selalu berbunyi, namun sering diabaikan sampai korban kembali berjatuhan.
Hingga berita ini diturunkan, pencarian empat korban masih berlangsung. Doa warga menggantung diudara yang lembap, menunggu kabar dari balik timbunan tanah. Di Cisempur, alam kembali menagih harga, dan manusia kembali belajar, dengan cara yang paling mahal.(misn’t)






Discussion about this post