INformasinasional.com, GOWA — Kabut tipis menyelimuti jalur pendakian Gunung Bawakaraeng ketika ratusan orang memanggul karung sampah, membawa peralatan sanitasi, dan berjalan perlahan menuju Pos 8.
Ditengah dinginnya udara pegunungan, langkah-langkah itu menjadi penanda lahirnya gerakan bersama menjaga kawasan hulu kehidupan di Sulawesi Selatan.
Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Sulawesi dan Maluku bersama berbagai unsur lintas sektoral menggelar aksi bersih lingkungan di Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap Gerakan Nasional Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) sekaligus menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.
Bukan sekadar kegiatan seremonial, aksi ini mempertemukan pemerintah, komunitas pecinta alam, masyarakat lokal, TNI/Polri, NGO, hingga sektor swasta dalam satu tujuan yang sama: menjaga gunung tetap hidup dan lestari.Dijalur pendakian yang selama ini dipadati aktivitas wisata alam, tumpukan sampah plastik dan limbah pendaki perlahan dikumpulkan satu per satu.
Beberapa peserta tampak menyusuri area camp sambil memungut botol plastik, kaleng minuman, hingga sisa perlengkapan yang ditinggalkan.
Gunung Bawakaraeng bukan hanya bentang alam yang menjulang di selatan Sulawesi. Kawasan ini merupakan daerah tangkapan air penting yang menopang kebutuhan masyarakat di Kabupaten Gowa hingga Kota Makassar.
Karena itu, kerusakan kecil di kawasan hulu diyakini dapat membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat di hilir.
Kepala Pusdal LH Sulawesi dan Maluku, Dr Azri Rasul SKM MH, mengatakan aksi bersih lingkungan tersebut merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap kondisi Gunung Bawakaraeng yang mulai menghadapi tekanan ekologis akibat meningkatnya aktivitas pendakian.“Menjaga gunung sejatinya menjaga sumber kehidupan. Kawasan hulu yang bersih akan menentukan kualitas air, kesehatan lingkungan, dan keberlanjutan ekosistem bagi masyarakat luas,” ujar Azri.
Selain melakukan aksi bersih sampah, kegiatan itu juga dirangkaikan dengan pembangunan fasilitas sanitasi dan infrastruktur hijau di Pos 8. Penyediaan air bersih, toilet, tempat sampah, hingga langgar disiapkan untuk mendukung budaya pendakian yang lebih sehat dan bertanggung jawab.
Disela kegiatan, peserta juga diedukasi mengenai konsep responsible mountaineering, yakni budaya mendaki dengan membawa kembali sampah turun ke kaki gunung agar tidak meninggalkan jejak pencemaran di kawasan konservasi.
Langkah kecil itu menjadi penting di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pencemaran sumber air akibat limbah manusia dan sampah anorganik di jalur pendakian.
Suasana gotong royong tampak terasa sepanjang kegiatan berlangsung.
Sejumlah relawan berjalan beriringan membawa karung sampah menuruni jalur pegunungan, sementara sebagian lainnya membantu proses pembangunan fasilitas sanitasi secara swadaya.
Kolaborasi lintas sektor itu melibatkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kabupaten Gowa, Balai Besar KSDA Sulsel, PT Vale, Pertamina, PLN, Pelindo, Ecotru, ASPEBINDO, komunitas pecinta alam, hingga media.
Bagi banyak peserta, Gunung Bawakaraeng bukan hanya tempat mendaki. Gunung itu adalah ruang belajar tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan alam.
Ditengah ancaman pencemaran dan meningkatnya volume sampah pendaki, aksi bersih tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan tidak bisa diserahkan kepada satu pihak saja.
Gunung yang bersih, mata air yang terjaga, dan ekosistem yang lestari lahir dari kesadaran kolektif bahwa alam bukan warisan untuk dihabiskan, melainkan titipan yang harus dijaga bersama.Melalui kegiatan ini, Pusdal LH Sulawesi dan Maluku berharap gerakan menjaga kawasan hulu dapat terus tumbuh menjadi budaya bersama, tidak hanya di Gunung Bawakaraeng, tetapi juga di berbagai kawasan konservasi lain di Indonesia.
Editor: Sapriaris






Discussion about this post