INformasinasional.com, LANGKAT — Negara boleh lamban, tapi lubang tak bisa menunggu. Pasca banjir yang menggerus bahu jalan diruas Tanjung Pura–Bukit Tua, Kecamatan Padang Tualang, sepanjang hampir 200 meter, abrasi meninggalkan luka menganga, jalan kupak-kapik, macet berderet, dan ancaman kecelakaan mengintai setiap hari.
Bahu jalan yang hancur itu berubah menjadi biang kerok kemacetan. Truk-truk bermuatan berat tak berani turun kesisi jalan. Dua kendaraan besar berpapasan saja sudah cukup membuat arus tersendat. “Sering macet panjang disini. Lubangnya besar, mobil susah berselisih,” kata Mat Asli, warga setempat, Minggu, 21 Desember 2025.
Ditengah keluhan yang tak kunjung ditambal pemerintah, solusi justru datang dari arah lain. Enam truk batu gunung dikirim Bang Ondim. Tanpa seremoni. Tanpa baliho. Batu-batu itu langsung disusun warga, swadaya, gotong royong, keringat sendiri. Mat Asli dan Paidi memimpin penataan, menutup lubang demi lubang yang selama ini jadi sumber petaka.
“Biar jangan jadi biang macet lagi,” ujar Mat Asli. “Kami memang biasa kerja swadaya nutupi lubang disini. Tapi kiriman batu gunung ini, enam truk, sangat berarti. Manfaatnya buat orang banyak.”
Ucapan terima kasih mengalir. Dari warga Pondok Bengkok, salam khusus dititipkan untuk Bang Ondim.
“Tolong sampaikan salam kami. Semoga panjang umur, sehat selalu, dan rezekinya dilimpahkan,” kata Mat Asli, diamini Paidi.
Harapannya sederhana, tak macet, tak rawan kecelakaan lagi.
Pantauan dilokasi memperlihatkan reaksi spontan pengguna jalan. Sopir-sopir truk berhenti sejenak, bertanya siapa penggagasnya. “Siapa yang nyumbang batu padas ini?” tanya seorang sopir tronton pengangkut sawit asal Aceh. “Bang Ondim,” jawab Amat. Sopir itu mengacungkan jempol. “Mantap.”
Kini, ruas yang dulu mencekik arus lalu lintas itu bernapas kembali. Bahu jalan tertutup, risiko menyusut, kemacetan mereda. Di Langkat, enam truk batu gunung membuktikan satu hal: ketika negara absen, warga bergerak, dan jalan pun selamat.
(Z Lubis)






Discussion about this post