INformasinasional.com, MEDAN — Menjelang Idulfitri 1447 Hijriah, angin segar akhirnya berembus bagi ribuan guru honorer dan tenaga pendidik berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu di Sumatera Utara. Gubernur Sumut Bobby Nasution resmi mencairkan Tunjangan Hari Raya (THR) untuk PPPK Paruh Waktu, tenaga pendidik paruh waktu, serta Guru Tidak Tetap (GTT).
Keputusan itu menjadi kabar yang ditunggu-tunggu para guru yang selama ini bertahan dengan penghasilan minim. Dokumen pencairan THR tersebut bahkan sudah diteken langsung oleh orang nomor satu di Sumatera Utara.
Kepala Dinas Pendidikan Sumut, Alexander Sinulingga, memastikan kebijakan itu sudah final. “Ini kabar gembira untuk rekan-rekan guru PPPK Paruh Waktu, tenaga pendidik paruh waktu dan Guru GTT provinsi. THR sudah ditandatangani Pak Gubernur. Alhamdulillah, beliau sangat concern terhadap kesejahteraan guru,” kata Alex kepada wartawan di Medan, Kamis (12/3/2026).
Bagi sebagian guru honorer, keputusan ini terasa seperti oase ditengah padang tandus. Selama bertahun-tahun, banyak dari mereka bertahan dengan gaji yang nyaris tak masuk akal, sekitar Rp500 ribu hingga Rp1 juta per bulan. Namun diera kepemimpinan Bobby Nasution, skema kesejahteraan mulai didorong naik. Guru yang diangkat menjadi PPPK Paruh Waktu kini menerima gaji sekitar Rp2 juta per bulan, sementara Guru Tidak Tetap mendapatkan honor Rp90 ribu per jam.
Menurut Alex, pemerintah provinsi bahkan tidak berhenti disitu. Pembayaran gaji yang sempat tertunda untuk Januari dan Februari 2026 juga akan segera dilunasi bersamaan dengan THR.
“InsyaAllah mulai besok kita bayarkan gaji Januari dan Februari sekaligus THR,” katanya.
Bila ditotal dengan tunjangan sertifikasi, sebagian guru bahkan bisa membawa pulang take home pay hingga sekitar Rp4 juta per bulan, angka yang bagi banyak pendidik honorer sebelumnya hanya menjadi harapan.
Bagi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, kebijakan ini bukan sekadar soal THR. Di baliknya ada pesan politik sekaligus komitmen: guru harus dihargai.
“Ini juga menjadi penyemangat bagi guru-guru kita untuk terus meningkatkan kinerja dan membantu anak-anak Sumatera Utara menjadi generasi yang lebih cerdas,” kata Alex.
Langkah Bobby Nasution ini langsung menjadi sorotan dikalangan tenaga pendidik. Setelah lama berada dilapisan paling bawah dalam struktur kesejahteraan aparatur pendidikan, para guru honorer akhirnya mulai merasakan sedikit ruang bernapas, setidaknya menjelang hari raya.(misn’t)






Discussion about this post