INformasinasional.com, LANGKAT — Negara tak menunggu pagi. Ketika banjir tiba-tiba menerjang Kecamatan Kuala pada Kamis malam, 8 Januari 2026, Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Langkat bergerak cepat menembus gelap dan derasnya arus. Panggilan darurat warga dijawab tanpa jeda.
Dipimpin Ansyari, delapan personel BPBD meluncur ke okasi dengan dua unit perahu karet dan peralatan evakuasi lengkap. Hujan yang mengguyur dua hari berturut-turut membuat Sungai Bingai dan Sungai Kuala meluap, menelan pemukiman warga, akses jalan, hingga fasilitas umum. Air datang tiba-tiba, menjelang malam, membuat warga nyaris tak punya waktu bersiap.
“Sekitar pukul 23.00 WIB saya dihubungi warga. Banjir sudah masuk ke Kelurahan Bela Rakyat dan Pekan Kuala. Kami langsung bergerak,” ujar Ansyari saat dikonfirmasi, Sabtu (10/1/2026)
Tak hanya membawa perahu karet, BPBD juga menyiapkan logistik makanan darurat. Langkah ini dilakukan sebagai penanganan dini, sembari menunggu bantuan lanjutan dari instansi terkait. Dilapangan, tim mendapati air setinggi hingga 1,5 meter menggenangi rumah warga.
Evakuasi dilakukan dengan prioritas utama: menyelamatkan nyawa. Warga—bersama barang-barang penting yang masih bisa diselamatkan, dipindahkan ke lokasi yang lebih tinggi dan aman dari rendaman air.
Banjir Kuala tak pandang bulu. Puluhan rumah warga, sekolah, masjid, gereja, hingga pesantren terendam.
Ironisnya, Markas Koramil Kuala pun tak luput dari amukan air. Total, sedikitnya 280 rumah di Kelurahan Bela Rakyat dan Pekan Kuala tenggelam. Ratusan warga terpaksa mengungsi ketenda darurat dan rumah-rumah penduduk didataran lebih tinggi demi bertahan hidup.
Setelah air berangsur surut, kerja BPBD belum usai. Lumpur tebal yang menyisakan trauma dan kerusakan dibersihkan, terutama disekolah-sekolah agar aktivitas belajar bisa kembali berjalan.
“Kami juga membantu pembersihan sekolah yang terdampak lumpur pascabanjir,” kata Ansyari.
Ia menambahkan, pasca banjir akhir 2025 lalu, BPBD Langkat tak hanya bergerak saat darurat. Upaya pemulihan dilakukan melalui penyediaan air bersih dengan pembangunan sumur bor disejumlah wilayah rawan, seperti Kecamatan Besitang, Sei Lepan, Padang Tualang, Tanjung Pura, Gebang, Hinai, dan Secanggang.
“Khusus banjir Kuala, fokus kami saat ini pembersihan sekolah dan rumah ibadah,” ujarnya menutup.
Pantauan kru INformasinasional.com disejumlah kecamatan menunjukkan kerusakan fasilitas umum masih terlihat jelas. Jejak lumpur dan bangunan rusak menjadi penanda bahwa pekerjaan rumah pemerintah Kabupaten Langkat belum selesai, menunggu langkah perbaikan konkret agar bencana tak berulang menjadi rutinitas tahunan.
(Z. Lubis)






Discussion about this post