INformasinasional.com, LANGKAT — Aroma hidangan berbuka belum sepenuhnya hilang ketika pesan yang lebih tajam justru mengemuka: persatuan pemuda Langkat sedang diuji. Ditengah suasana hangat silaturahmi dan buka bersama Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Langkat, Rabu (18/3/2026), para elite daerah datang bukan sekadar berbasa-basi,mereka membawa kegelisahan yang sama: jangan sampai pemuda terbelah oleh sisa-sisa kontestasi.
Ketua DPRD Langkat, Sribana Perangin Angin, hadir dan langsung menohok inti persoalan. Dihadapan jajaran pemuda, ia tak menutup mata terhadap dinamika pasca-Musyawarah Daerah (Musda) KNPI yang kerap menyisakan friksi. “Perbedaan itu wajar, tapi jangan dipelihara jadi perpecahan. Pemuda harus jadi perekat, bukan pemicu retak,” katarnya lugas.
Acara bertajuk “Pemuda Bersatu, Langkat Maju” itu dihadiri sejumlah figur kunci: anggota DPR RI Delia Pratiwi Br Sitepu yang juga Ketua Majelis Pemuda Indonesia KNPI Langkat, Wakil Bupati Langkat, Kapolres Langkat AKBP David Triyo Prasojo, hingga unsur TNI dan pimpinan organisasi kepemudaan. Kehadiran mereka seolah menjadi penegas: masa depan daerah ini tak bisa dilepaskan dari soliditas anak mudanya.
Sorotan utama tentu mengarah pada sosok Ketua DPD KNPI Langkat terpilih, M.A.
Bahrum. Ia datang dengan mandat, sekaligus beban: merangkul yang sempat bersilang jalan. “Pasca-Musda, dinamika itu nyata. Tapi KNPI harus jadi rumah bersama, bukan arena kubu-kubuan,” kata Bahrum, tanpa berkelit.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Hingga kini, struktur kepengurusan masih diramu, sebuah fase krusial yang bisa menentukan apakah KNPI akan menjadi motor penggerak pemuda, atau justru tersandera kompromi politik internal.
Sribana pun menegaskan sikap terbuka—bahkan mengundang kritik. Baginya, kepemimpinan bukan soal kenyamanan, melainkan keberanian memperbaiki.
“Yang salah kita benahi, yang baik kita dorong. Jangan ada ego yang lebih besar dari kepentingan Langkat,” katanya.
Bukber yang ditutup dengan doa bersama itu terasa lebih dari sekadar ritual Ramadan. Ia menjadi panggung konsolidasi, sekaligus alarm: jika pemuda gagal bersatu, maka jargon “Langkat Maju” hanya akan menjadi slogan kosong.
Ditengah derasnya tantangan zaman, satu hal mengemuka dari pertemuan itu.Langkat tidak kekurangan energi muda. Yang dibutuhkan kini adalah keberanian untuk mengelola perbedaan, sebelum perbedaan itu mengelola mereka.(Misno)






Discussion about this post