INformasinasional.com, Humbahas —
Ambisi besar itu kini sedang dipacu, bukan dilintasan lomba, melainkan di meja rapat, jalur birokrasi, dan tepian Danau Toba. Triathlon Challenge Bakkara Humbahas yang dijadwalkan 25 Juli 2026 tengah dikebut, didorong oleh semangat sport tourism yang ingin menembus batas seremoni dan benar-benar menjadi magnet nasional.
Panitia pelaksana dari PT Ompu Sumihar Toruan Teknologi (OST) Jakarta tak menyembunyikan ritme kerja yang semakin intens. Liaison Officer panitia, Tohap Sihombing, menyebut progres kegiatan bergerak dalam dua jalur sekaligus, teknis dilapangan dan diplomasi dipusat kekuasaan.
“Langkah kami terukur. Surat sudah dikirim ke Deputi Pengembangan Industri Olahraga Kemenpora, dan responnya positif. Bahkan sempat dibahas dalam rapat daring yang dipimpin deputi. Sekarang kami menunggu sinyal dari menteri,” kata Tohap, tanpa menutupi nada optimistis, Selasa (17/3/2026).
Namun, seperti proyek ambisius lainnya, jalan menuju garis start tak selalu mulus. Panitia masih menunggu kepastian dukungan dari Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI. Respons awal dari Asisten Deputi Pariwisata memang menjanjikan, event ini mulai dilihat sebagai agenda nasional, tetapi jadwal pembahasan lanjutan masih menggantung.
Ditengah tarik-menarik birokrasi itu, denyut kegiatan dilapangan tak boleh padam. Sekitar 200 peserta disebut telah menyatakan minat. Sosialisasi terus digencarkan melalui media sosial dan situs resmi sejak awal Februari. Targetnya jelas, menjadikan Bakkara bukan sekadar lokasi lomba, tetapi panggung destinasi.
Panitia juga mencoba meramu event ini lebih dari sekadar adu fisik. Dibalik triathlon, renang, sepeda, dan lari, terselip agenda ekonomi dan budaya. Eceng gondok, tanaman yang kerap dianggap gulma di Danau Toba, justru diangkat sebagai bahan baku produk kreatif UMKM.
“Kami sudah mulai gerakan bersama masyarakat. Harapannya, eceng gondok bisa diolah jadi produk bernilai. Ini bukan hanya event olahraga, tapi penggerak ekonomi lokal,” kata Tohap.
Langkah berikutnya tak kalah simbolik. Pada 30 Maret 2026, panitia akan menggelar sosialisasi dan doa bersama di Kecamatan Baktiraja. Sebuah upaya membangun legitimasi sosial, bahwa warga bukan sekadar penonton, melainkan tuan rumah.
Sementara itu, tim race management dijadwalkan turun langsung ke lokasi pada 27–31 Maret untuk mematangkan rute lomba. Jalur yang nantinya akan menentukan bukan hanya kecepatan atlet, tetapi juga citra keselamatan dan profesionalisme event.
Diatas semua itu, Triathlon Humbahas 2026 membawa simbol yang lebih luas: diplomasi budaya. Logo event mengusung gorga dan ulos, identitas Batak, dengan warna-warna khas sebagai bahasa persaudaraan antar atlet.
Ambisi sudah ditebar. Dukungan mulai dirayu. Lapangan tengah disiapkan.
Kini, pertanyaannya tinggal satu: apakah semua janji itu akan finis dengan gemilang, atau tersendat sebelum peluit start benar-benar ditiup?
Reporter: Karmawan Silaban






Discussion about this post