INformasinasional.com, Langkat — Banjir yang menyapu 16 kecamatan di kabupaten Langkat, Sumatera Utara dan Aceh bukan sekadar musibah alam. Ia meninggalkan luka ekologis, duka kemanusiaan, dan jejak panjang keserakahan manusia. Di Kabupaten Langkat, air berlumpur dari hulu Sungai Batang Serangan berubah menjadi algojo, 16 kecamatan porak-poranda, ribuan rumah terendam, ratusan ternak mati, puluhan nyawa melayang, dan kerugian tak terhitung.
Dibalik amukan air itu, tudingan keras diarahkan kerusakan hutan resapan dibagian hulu Sei Batang Serangan. Ketua DPD Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Langkat, Zaid Lubis, menyebut ratusan hektare hutan yang semestinya menjadi tameng alami kini gundul. Ia menduga perusakan itu dilakukan oleh manajemen PTPN I, perusahaan perkebunan milik negara.
“Hutan resapan itu seharusnya menjadi pengendali debit air dari gunung. Tapi sekarang sudah telanjang. Akibatnya, air tak lagi bisa dikendalikan,” kata Zaid, Sabtu, 27 Desember 2025, di Stabat.
Kerusakan ekologis itu, menurut Zaid, menjadi biang bencana yang menenggelamkan wilayah hilir seperti Kecamatan Batang Serangan, Sawit Seberang, Padang Tualang, hingga Tanjung Pura. “Ini bukan lagi soal toleransi. PTPN I harus angkat kaki dan mengembalikan areal itu menjadi hutan resapan,” ujarnya.
Zaid memperingatkan, jika tuntutan itu diabaikan, AMPI Langkat siap menggalang perlawanan warga dan menempuh jalur hukum maupun aksi massa. “Kami dan keluarga besar sudah menjadi korban. Jangan paksa kami memilih jalan street of justice,” katanya.
PTPN I berdalih areal tersebut masuk dalam Hak Guna Usaha (HGU). Namun bagi AMPI, klaim itu tak bisa menjadi tameng. “HGU harus dibuktikan. Dan kalau pun benar, kami akan mendesak instansi terkait untuk membatalkannya,” ujar Zaid..
Ia menegaskan, izin bisa berubah, tetapi nyawa korban tak akan pernah kembali. “Jangan pertaruhkan HGU dengan nyawa anak-anak Langkat dan masa depan mereka,” katanya.
Dengan nada keras, Zaid menyatakan AMPI akan terus berada digaris depan melawan segala bentuk perusakan hutan resapan Sei Batang Serangan. “Kami anak Langkat. Darah petarung mengalir ditubuh kami. Hak hidup kami dijamin konstitusi,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan PTPN I dan pihak mana pun agar berhenti bermain-main dengan alam. “Nyawa dan masa depan kami bukan taruhan atas perusakan hutan,” kata Zaid.
(Red)






Discussion about this post