INformasinasional.com, LANGKAT — Jembatan darurat dari batang kelapa di Paret Rimo, Karang Sari, kembali menjadi biang kemacetan. Minggu, 18 Januari 2026, antrian kendaraan mengular hingga ratusan meter. Pengendara roda dua dan roda empat terpaksa antre panjang, melintasi jembatan sementara yang rapuh, bergoyang, dan jauh dari kata aman.
Jembatan darurat itu sejatinya hanya solusi sementara selama rehabilitasi jembatan utama oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Langkat. Masalahnya, rehabilitasi telah rampung sejak sebelum Tahun Baru. Namun hingga kini, akses jembatan baru tak kunjung dibuka. Akibatnya, jembatan kelapa yang seharusnya pensiun dini justru terus dipaksa menanggung beban lalu lintas.
Kondisi paling parah terjadi saat akhir pekan dan hari libur. Jalur ini merupakan akses utama menuju kawasan wisata Tangkahan. Volume kendaraan melonjak drastis. Antrian diperkirakan mencapai 400 meter, memicu kemacetan panjang dan ketegangan di jalan sempit tersebut.
“Ini antrian terpanjang sejak jembatan diperbaiki,” kata Budiman, 47 tahun, sopir minibus L300 asal Serdang Bedagai. Ia mengaku hampir setiap Minggu melintas dijalur itu.
“Jembatan baru sudah lama selesai. Harusnya PUTR Stabat sudah membuka akses untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Kalau dibiarkan begini terus, yang disiksa ya pengendara,” katanya geram.
Pantauan kru di lapangan memperlihatkan kondisi jembatan darurat yang mengkhawatirkan. Batang-batang kelapa yang disusun sebagai lantai jembatan tampak bergoyang saat dilintasi kendaraan. Bunyi berderak terdengar jelas setiap kali mobil melintas, memaksa pengemudi menahan napas dan menginjak gas perlahan.
Warga setempat pun menyuarakan kekhawatiran serupa.
“Jembatan utama sudah hampir sebulan selesai. Untuk motor dan mobil pribadi sebenarnya sudah layak dibuka,” kata seorang warga yang enggan disebutkan namanya. Ia menilai pembiaran ini bukan hanya soal kemacetan, tetapi juga soal keselamatan. “Antrian panjang begini rawan kecelakaan. Jembatan darurat itu juga bisa roboh kapan saja.”
Kemacetan di Karang Sari kini bukan sekadar soal antrean, melainkan cermin lambannya pengambilan keputusan. Ketika infrastruktur baru telah siap, tetapi akses tetap tertutup, publik berhak bertanya: apa lagi yang ditunggu?
(Red)






Discussion about this post