INformasinasional.com, MEDAN — Bukan sekadar studi lapangan. Bagi peserta Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan I Tahun 2026 Pusjar SKMK LAN RI Aceh, kunjungan keinstansi pelayanan publik menjadi ruang untuk membedah inovasi, menguji gagasan, sekaligus mencari formula baru yang bisa dibawa pulang dan diterapkan didaerah.
Ada 37 peserta PKA Angkatan I Tahun 2026 melaksanakan Studi Lapangan (Stula) didua lokus strategis, Jumat (21/8/2026). Sebanyak 19 peserta melakukan pembelajaran di DPMPTSP Kota Medan, sedangkan 18 peserta lainnya mengunjungi Diskominfo Kota Binjai.
Di DPMPTSP Kota Medan, salah satu rombongan yang mengikuti kegiatan tersebut adalah Kelompok 3. Kelompok ini beranggotakan 10 pejabat administrator dari berbagai daerah dan instansi, dengan latar belakang tugas yang beragam.
Salah satunya adalah Ibadi Rahman, Kabid Pengembangan Teknologi dan Aplikasi Informatika Dinas Kominfo Kabupaten Langkat.
Selain Ibadi, Kelompok 3 terdiri atas Luken Bugeking, Kabag Administrasi Pembangunan Aceh Tengah; Hernita, Kabag Perencanaan, Keuangan dan Umum Politeknik Negeri Lhokseumawe; Malikussaleh, Camat Atu Lintang Aceh Tengah; Afifullah, Kabid Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan Disdukcapil Aceh Timur, Dian Fakhruzi, Kabid Pelayanan Penunjang RSUD Sultan Abdul Aziz Syah Peureulak; Jalinar Simanjuntak, Kabag Kerjasama Serdang Bedagai; Sayuti, Camat Kuala Bireuen; Junizar Lasmi, Kabid Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Daerah BPKD Aceh Barat; serta Jamilah, Camat Pangkalan Susu Langkat.
Rombongan diterima langsung Kepala DPMPTSP Kota Medan, Rasyid Ridho Nasution, S.STP., didampingi Sekretaris, para koordinator dan jajaran DPMPTSP Kota Medan.
Stula dirancang untuk memberikan pengalaman pembelajaran langsung kepada peserta dalam menggali praktik baik penyelenggaraan pemerintahan. Fokus pembelajaran mencakup pengelolaan organisasi, inovasi pelayanan, pemanfaatan teknologi, hingga strategi kepemimpinan dalam menghadapi tuntutan perubahan.
DPMPTSP Kota Medan dipilih sebagai salah satu lokus karena memiliki posisi strategis dalam pelayanan perizinan dan penanaman modal yang berhadapan langsung dengan masyarakat maupun dunia usaha.
Ditengah kompleksitas pelayanan suatu kota metropolitan, inovasi menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan. Karena itu, peserta tidak hanya melakukan observasi, tetapi juga berdiskusi dan bertukar pengetahuan untuk mengidentifikasi berbagai praktik yang berpotensi diadaptasi sesuai karakteristik daerah masing-masing.
Bagi Ibadi Rahman, pembelajaran tersebut memiliki arti khusus.
Sebagai pejabat yang menangani pengembangan teknologi dan aplikasi informatika di Kabupaten Langkat, ia melihat Stula sebagai kesempatan untuk menyaksikan secara langsung bagaimana teknologi dapat ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat pelayanan publik.
“Banyak hal yang kami dapat dari Stula ini, terutama bagaimana inovasi dan teknologi dapat dimanfaatkan untuk membuat pelayanan lebih cepat, mudah dan efektif,” kata Ibadi.
Menurutnya, tidak semua praktik yang ditemukan harus diterapkan secara mentah. Yang lebih penting adalah menangkap gagasan, mekanisme dan pendekatan yang relevan, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan serta kondisi daerah.
“Tentunya praktik baik yang relevan akan menjadi bahan bagi kami untuk dikembangkan di Langkat, sehingga dapat mendukung arah pembangunan dan visi-misi Bupati Langkat dalam mewujudkan pemerintahan yang semakin efektif, inovatif dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” katanya.
Ibadi menegaskan, hasil Stula tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan pribadi atau sekadar catatan perjalanan pendidikan.
Pembelajaran tersebut harus diterjemahkan menjadi gagasan yang mampu memberikan nilai tambah bagi organisasi dan masyarakat.
Bagi Dinas Kominfo Kabupaten Langkat, pengalaman itu diharapkan menjadi tambahan perspektif dalam mengembangkan inovasi berbasis teknologi, meningkatkan efektivitas pelayanan publik, sekaligus memperkuat agenda transformasi digital pemerintahan.
Transformasi digital sendiri bukan hanya soal menghadirkan aplikasi atau memindahkan layanan dari meja pelayanan ke layar komputer. Lebih jauh, transformasi menuntut perubahan cara kerja, penyederhanaan proses, integrasi data, peningkatan kecepatan pelayanan dan kemampuan aparatur merespons kebutuhan masyarakat.
Dititik inilah hasil Stula diharapkan memiliki dampak nyata ketika peserta kembali ke instansi masing-masing.
Seluruh rangkaian kegiatan didampingi Widyaiswara Ahli Muda Pusjar SKMK LAN RI Aceh, Waldi Ishaq Siregar, SE., MM. Pendampingan tersebut dilakukan agar proses observasi, diskusi dan pertukaran pengalaman tidak berhenti pada pengumpulan informasi, tetapi dapat dianalisis dan dikaitkan dengan kompetensi kepemimpinan administrator.
Stula akhirnya bukan sekadar perjalanan akademik. Ia menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman antarinstansi, membandingkan pola pelayanan, menemukan celah perbaikan dan merumuskan gagasan yang dapat diterapkan.
Bagi Kelompok 3, tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah kegiatan berakhir, bagaimana praktik baik yang ditemukan dapat diterjemahkan menjadi inovasi konkret ditempat masing-masing.
Bagi Langkat, pengalaman Ibadi Rahman diharapkan dapat memperkaya ikhtiar membangun pemerintahan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Sebab, ukuran keberhasilan sebuah pembelajaran kepemimpinan bukan semata-mata sertifikat yang diperoleh, melainkan perubahan yang mampu diciptakan setelah kembali kelapangan.
Dengan semangat belajar, berkolaborasi dan berinovasi, para peserta PKA diharapkan mampu tampil sebagai pemimpin perubahan diinstansinya masing-masing, mendorong tata kelola pemerintahan yang lebih efektif, pelayanan publik yang lebih cepat dan mudah, serta transformasi digital yang benar-benar terasa manfaatnya bagi masyarakat.(Misno)
Editor: Ardiansyah






Discussion about this post