INformasinasional.com, LANGKAT — Pemerintah Kabupaten Langkat kembali memajang optimisme ditengah statistik kesehatan yang belum sepenuhnya jinak. Senin, 26 Januari 2026, Wakil Bupati Langkat Tiorita Br Surbakti membuka Workshop Integrasi Data Rujukan dan Komunikasi Antar Personal Program Sehati Bunda di Ruang Pola Kantor Bupati Langkat.
Kabupaten ini ditunjuk sebagai satu-satunya daerah percontohan nasional, sebuah status prestisius yang sekaligus mengandung taruhan besar.
Program Sehati Bunda diklaim sebagai senjata baru untuk menekan angka kematian ibu dan bayi serta memperbaiki kualitas keluarga. Tapi dibalik jargon integrasi data dan penguatan kapasitas kader, pertanyaan lama kembali mengemuka, sejauh mana program ini akan menembus praktik dilapangan, bukan berhenti diruang seminar berpendingin udara?
Workshop ini dihadiri barisan pejabat dan pemangku kepentingan lintas sektor, dari Ketua TP PKK Langkat Endang Kurniasih Syah Afandin, perwakilan Kemenduk Bangga/BKKBN Sumatera Utara, hingga lembaga swadaya masyarakat dan mitra internasional.
Sebagian pejabat pusat mengikuti acara secara virtual, sebuah ironi ditengah kampanye penguatan kerja lapangan.
Kepala Dinas PPKB dan PPA Langkat, Indri Nugraheni, menyebut kegiatan ini sebagai upaya percepatan yang digerakkan Yayasan Cipta bersama Population Service International (PSI).
Sebanyak 123 peserta dikerahkan, mulai dari camat, kepala desa, penyuluh KB, kader Rumah DataKu, hingga TP PKK desa di Wampu dan Secanggang. Mereka adalah garda terdepan yang selama ini sering dibebani target, tapi minim dukungan operasional.
Mewakili Bupati Langkat Syah Afandin, Wakil Bupati Tiorita Surbakti menegaskan komitmen pemerintah daerah. Ia menyebut Sehati Bunda selaras dengan visi-misi kepala daerah: menurunkan kematian ibu dan bayi, menekan stunting, dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat. Namun, penegasan itu datang bersamaan dengan pengakuan bahwa kerja lintas sektor masih harus dipaksa berjalan melalui pendampingan intensif.
“Integrasi data, penguatan kader, dan dukungan operasional adalah kunci,” kata Tiorita. Pernyataan yang terdengar normatif, tapi sekaligus mencerminkan persoalan klasik: data sering tak terhubung, kader bekerja sendiri, dan layanan kesehatan berjalan parsial.
Kepala Perwakilan Kemenduk Bangga/BKKBN Sumatera Utara, dr. Fatmawati, mengingatkan konteks yang lebih luas. Berdasarkan SSGI 2024, prevalensi stunting di Sumatera Utara justru naik menjadi 22 persen. Angka itu menjadi latar yang kontras dengan narasi kemajuan menuju Indonesia Emas 2045. Dititik ini, Langkat diposisikan sebagai laboratorium kebijakan, jika gagal, sulit mencari pembenaran.
Data lokal pun berbicara setengah optimistis. Executive Director Yayasan Cipta, Dini Hariyati, menyebut angka kematian ibu di Langkat turun dari 11 kasus menjadi 9 kasus. Penurunan itu diapresiasi, namun ia mengingatkan bahwa secara nasional angka kematian ibu masih 189 per 100 ribu kelahiran hidup, angka yang jauh dari aman.
“Setiap kematian ibu sejatinya bisa dicegah,” ujar Dini. Kalimat sederhana, tapi menyiratkan kritik keras terhadap sistem layanan kesehatan yang masih timpang.
Program Director PSI, Dinar Pandansari, memaparkan strategi penguatan layanan kesehatan maternal berbasis komunitas. Fokusnya: memastikan intervensi benar-benar tiba dirumah tangga, bukan hanya berhenti dilaporan kegiatan.
Kini, Sehati Bunda dipanggul sebagai harapan baru di Langkat. Tapi publik menunggu lebih dari sekadar workshop dan pidato. Yang diuji bukan komitmen dipodium, melainkan keberanian memastikan program ini bekerja hingga ke ibu hamil didesa-desa yang selama ini hanya hadir sebagai angka dalam laporan tahunan.(Misno)






Discussion about this post