INformasinasional.com, Langkat — Dari udara, bangunan itu tampak seperti pulau kecil yang kalah melawan gelombang. Markas Komando Rayon Militer (Makiramil-14) Besitang yang biasanya tegak menjaga perbatasan pesisir Langkat kini hanya menyisakan atap seng hijau bertuliskan KORAMIL–14. Sisanya hilang ditelan banjir.
Sejak Minggu hingga Rabu petang, 23–26 November 2025, hujan mengguyur tanpa jeda, seperti tak mengenal lelah. Pesisir Langkat, dari Teluk Haru hingga pedalaman kecamatan, dihajar air yang mulanya naik malu-malu, kemudian mengganas bak amukan air bah.

Besitang Paling Parah, Rumah Tinggal Atap, Koramil Serupa Dermaga Tenggelam
Desa Sekoci dan Kampung Sawah di Besitang adalah korban terburuk. Air menerobos rumah-rumah, naik perlahan lalu melompat drastis. Banyak rumah kini hanya menyisakan atap, nyaris hanyut.
“Hujan tiga hari tiga malam tanpa kasihan. Sudah sampai bubungan tingginya,” kata Edwar Tambunan, warga Kampung Sawah, dengan wajah letih menyeka genangan yang terus naik.
Tak jauh dari sana, Koramil 12 Gebang dan Polsek Gebang tak kuasa. Fasilitas vital yang biasanya berdiri kering dan tegap kini dikepung air hampir satu meter. Di halaman TK Tunas Kartika, ayunan anak-anak yang biasanya ramai, kini terbenam seolah tenggelam dalam diam.
“Baru pertama kali seperti ini,” ujar Batuud Koramil 12 Gebang, Serma Purba.
Jalinsum Menjelma Kolam Raksasa
Di ruas Jalan Lintas Sumatera, antara Gebang hingga Babalan, suasana berubah muram. Deru mesin kendaraan berganti menjadi rintihan. Mobil dan sepeda motor bergerak seperti makhluk kelelahan, menyeret ban mereka dalam kolam keruh setinggi lutut hingga pinggang orang dewasa.
Lalulintas dari Medan tujuan Aceh terputus akibat banjir setinggi 2 – 3 meter menggenangi Jalinsum Kampung Sawah Besitang.
Warga berdiri ditepian jalan, sebagian memantau debit air, sebagian lain menebak-nebak, kapan banjir berbaik hati surut?
Camat Gebang, Sofyan Tarigan, memastikan dirinya sudah turun ke lokasi sejak pagi. “Sudah saya laporkan ke Pak Bupati,” katanya singkat.
Tetapi bagi warga, langkah itu bukan jawaban.
“Baru turun ketika banjir sudah jadi laut,” sembur seorang warga yang rumahnya kemasukan air sampai lutut.
Warga Menuntut Investigasi, Siapa Menutup Parit?
Dibalik amukan air, kecurigaan bergulir dari bibir ke bibir. Warga menuding saluran air yang ditutup sembarangan sebagai biang keladi. Parit PU diduga ditimbun tanpa kajian, membuat air tak punya ruang melintas.
“Ini bukan bencana alam. Ini bencana kelalaian,” tegas seorang tokoh warga.
Mereka menuntut investigasi terbuka:
Siapa yang memberi izin menutup parit? Mengapa dibiarkan? Dan kapan pemerintah membuka saluran itu sebelum banjir berikutnya datang menghantam?
Karena bila drainase tak dibenahi, gorong-gorong dibiarkan mampet, dan bangunan liar tetap berdiri tanpa kendali, maka setiap musim hujan Jalinsum bukan lagi jalan nasional, melainkan kolam tahunan.
Hingga berita ini diturunkan Rabu petang, hujan masih turun, awan gelap menggantung rendah. Seolah mengisyaratkan satu hal:
Genangan belum selesai bercerita.(Tim Reportase INformasinasional.com)






Discussion about this post