INformasinasional.com, BEKASI – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI Nezar Patria resmi membuka Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) 2025 di Gedung BPPTIK Kemenkomdigi, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (30/8/2025).
Dibalik seremonial yang tampak tenang, sejatinya tersimpan duel maut perebutan 87 suara emas yang akan menentukan siapa penguasa tertinggi organisasi wartawan terbesar di Indonesia.
“PWI adalah kakak tertua pers Indonesia, ikut dalam sejarah kemerdekaan, memetakan dasar-dasar jurnalisme, dan kini menjadi pilar kebersamaan insan pers.” kata Nezar Patria dalam sambutannya. Ia menegaskan pemerintah hanya sebatas fasilitator tanpa intervensi dalam kongres panas ini.
Bukan sekadar kongres lima tahunan, arena ini menjelma gelanggang gladiator. Disatu sisi ada Akhmad Munir, Direktur Kantor Berita Antara yang kini memimpin dukungan dari 15 PWI Provinsi. Disisi lain berdiri Hendry Ch Bangun, mantan Sekjen PWI Pusat yang dikenal lihai mengorganisir dan menguasai 13 PWI Provinsi.
Meski Munir unggul tipis, kongres PWI terkenal penuh kejutan. Satu suara saja bisa menjadi “peluru emas” yang meruntuhkan strategi lawan. Inilah perebutan kursi panas Ketua Umum PWI 2025–2030, kursi yang akan menentukan arah pers Indonesia ditengah gempuran era digital dan badai disrupsi industri media.
Tak hanya itu, kursi Ketua Dewan Kehormatan PWI juga ikut diperebutkan antara Atal S Depari dan Sihono ST. Dua medan perang dalam satu panggung besar membuat atmosfer kongres kian membara.
87 Suara, Harga Mati!
Total 87 suara dari 38 provinsi dan daerah otonom kini jadi rebutan sengit. Dari barat hingga timur nusantara, setiap suara ibarat emas yang menentukan arah sejarah.
- Sumatra: Aceh 3 suara, Sumut 4 suara, Riau 4 suara, Lampung 5 suara.
- Jawa: DKI Jakarta 3 suara, Jawa Barat 5 suara, Jawa Tengah 3 suara, Solo 1 suara, DIY 2 suara, Jawa Timur 4 suara.
- Indonesia Timur: Sulsel 3 suara, Maluku 2 suara, NTB & NTT masing-masing 1 suara, Papua 1 suara, plus lima provinsi baru Papua masing-masing 1 suara.
Inilah peta pertempuran. Setiap ketua PWI provinsi kini jadi rebutan bak jenderal lapangan. Lobi-lobi politik, janji program, dan bisik-bisik kepentingan bergema dibalik layar kongres.
Ketua Dewan Pers Prof Komaruddin Hidayat berpesan agar kongres ini jadi momentum mengakhiri dualisme kepengurusan yang sempat mencoreng wajah PWI.
“Kalau kemarin ada konflik, anggap saja keisengan sejarah. Enough is enough! Saatnya bersatu, kantor di Kebun Sirih sudah menunggu,” tegas Komaruddin.
Sementara itu, Kepala BPSDM Kemenkumham RI Gusti Ayu Putu Suwardani menekankan bahwa pers dan PWI adalah pilar demokrasi. “Semoga lahir pemimpin yang mampu membangkitkan persatuan dan bersama pemerintah mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Kongres PWI 2025 bukan sekadar pesta demokrasi organisasi. Ia adalah penentu wajah pers nasional lima tahun ke depan. Apakah PWI akan bertahan dengan tradisi lama, atau lahir dengan wajah baru yang lebih berani menghadapi era digital?
Hari ini, di Cikarang, sejarah akan ditulis ulang. 87 suara emas akan menentukan siapa yang layak duduk disinggasana:
- Munir, sang Direktur Antara dengan mesin dukungan besar.
- Hendry, organisator ulung yang lihai memainkan taktik menit akhir.
Dan ketika palu diketuk, Indonesia akan tahu siapa panglima tertinggi insan pers, pemegang kendali arah jurnalisme bangsa hingga 2030.(Misno)