INformasinasional.com, Bulukumba – Sejumlah orang tua siswa SDN 175 Bulo-Bulo menyampaikan keberatannya atas pergantian Kepala Sekolah Erniati yang dimutasi pada 22 Desember lalu. Mereka mengaku khawatir perubahan kepemimpinan tersebut berdampak pada kondisi sekolah dan kebiasaan positif yang selama ini terbangun.
Salah satu orang tua siswa asal Desa Bulo-Bulo, Sitti Fatimah, menilai sosok Erniati dikenal dekat dengan anak-anak serta sering membangun komunikasi aktif dengan orangtua dan wali murid.
Ia menyayangkan keputusan mutasi tersebut dan berharap pemerintah mempertimbangkannya kembali.
“Harapan saya ibu Erni dikembalikan memimpin SD 175 Bulo-Bulo. Kami khawatir kalau penggantinya bukan sosok yang tegas seperti beliau,” ujar Sitti Fatimah, Minggu (29/12/2025).
Menurut Sitti, Erniati memiliki banyak program pembiasaan positif yang membuat siswa lebih bersemangat datang kesekolah. Ia menilai jika kepala sekolah berganti, ada kemungkinan kebiasaan itu hilang dan semangat siswa menurun.
“Banyak pembiasaan positif yang sudah dilakukan Erniati, pak. Kalau diganti otomatis bisa hilang begitu saja. Kami tidak mau sekolah anak kami kembali redup seperti dulu,” tambahnya.
Dikonfirmasi terpisah, Erniati membenarkan adanya suara keberatan dari orang tua siswa terkait mutasinya.
Ia menjelaskan bahwa perpindahan dirinya tak lepas dari laporan pengelolaan keuangan dan isu soal penggantian gembok sekolah yang kemudian berkembang menjadi kabar negatif untuk dirinya.
Mantan Kepala SDN 175 Bulo-Bulo itu menuturkan kronologi penggantian gembok yang sebelumnya sempat ramai menjadi sorotan.
Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, 18 Desember 2025. Menurutnya, tindakan itu diambil sebagai langkah menjaga keamanan lingkungan sekolah.
Sebelum mengganti gembok, Erniati mengaku lebih dulu mencoba menghubungi satpam sekolah melalui nomor telepon yang biasa digunakan.
“Awalnya saya telpon, yang angkat anaknya. Saya tanya ayahnya dimana, dia bilang ada. Saya minta dia suruh datang karena saya ada di sekolah. Niat saya memang untuk menyerahkan kunci, tapi belum saya jelaskan di telepon,” kata Erniati.
Namun, setelah menunggu beberapa menit, satpam yang dimaksud tak kunjung datang. Ia kemudian menghubungi kembali nomor tersebut.
“Sekitar dua sampai tiga menit kemudian saya telpon lagi, tapi yang angkat istrinya dan bilang suaminya tidak ada. Disitu saya merasa tidak dihargai sebagai kepala sekolah. Karena saya mengira gembok lama rusak, saya putuskan ganti demi keamanan,” ujarnya.
Sejumlah orang tua mengaku siap menyampaikan aspirasi melalui aksi unjukrasa secara resmi agar Erniati dapat kembali bertugas. Mereka menilai perubahan mendadak tanpa evaluasi terbuka berisiko mengganggu kondisi belajar siswa.
Sitti Fatimah menegaskan, aspirasi orang tua bukan untuk menolak kepala sekolah baru, melainkan mempertahankan hal-hal baik yang sudah berjalan.
“Kami hanya ingin sekolah tetap maju seperti sekarang. Kalau ibu Erni diganti, kami khawatir suasana belajar berubah, dan Insyaallah kami bersama sejumlah Orangtua siswa lainnya akan merencanakan aksi unjukrasa” tegasnya.
Reporter: Sapriaris






Discussion about this post