INformasinasional.com, LANGKAT — Regenerasi petani di Kabupaten Langkat menghadapi tantangan serius. Ketika sektor pertanian dituntut terus menjadi penopang ketahanan pangan, minat generasi muda untuk terjun kedunia tani justru dinilai masih minim.
Ditengah persoalan itu, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Langkat) langsung menggeber agenda regenerasi. Usai dilantik, organisasi tersebut memasang target ambisius, merekrut 1.000 kader muda pertanian di Negeri Bertuah.
Kepengurusan DPC HKTI Kabupaten Langkat periode 2026–2031 dilantik Ketua Harian Dewan Pimpinan Nasional (DPN) HKTI, Ir Mulyono Makmur, di Aula Raja Inal Siregar, Kantor Gubernur Sumatera Utara, Rabu (9/9/2026).
Target 1.000 kader bukan sekadar angka. Bagi HKTI Langkat, regenerasi merupakan pertaruhan terhadap keberlanjutan sektor pertanian sekaligus masa depan ketahanan pangan daerah.
Ketua DPC HKTI Kabupaten Langkat H Dedek Pradesa S SosI MSos, melalui Sekretaris Dicky Suhendro SH, mengatakan organisasi yang baru dilantik tersebut akan segera bergerak memperluas struktur hingga tingkat kecamatan dan desa.
“Kami akan segera membentuk kepengurusan ditingkat PAC hingga ranting. Targetnya merekrut 1.000 kader muda pertanian,” tegas Dicky kepada awak media di Stabat, Jumat (11/9/2026).
Dicky mengungkapkan, persoalan regenerasi petani terlihat dari kondisi dilapangan. Aktivitas pertanian masih banyak ditopang petani berusia lanjut, sementara keterlibatan anak-anak muda dinilai belum sebanding dengan kebutuhan regenerasi.
Situasi itu, menurut dia, harus menjadi alarm bagi semua pihak.
Sebab, jika generasi muda semakin menjauh dari sektor pertanian, keberlanjutan produksi pangan di masa depan akan menghadapi tantangan yang semakin berat.
“Regenerasi petani harus tetap berlanjut demi ketahanan bangsa dan negara, khususnya Langkat di masa depan,” katanya.
Ia menyebut terdapat sejumlah faktor yang membuat pertanian belum menjadi pilihan utama generasi muda. Salah satunya adalah persepsi mengenai pendapatan petani yang masih rendah dibandingkan dengan beban pekerjaan yang harus dilakukan.
Persoalan lainnya adalah modernisasi pertanian yang belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan generasi muda.
Beratnya pekerjaan di sektor pertanian yang tidak selalu diimbangi dengan penggunaan teknologi dan peralatan modern, kata Dicky, membuat profesi petani kurang menarik bagi sebagian anak muda.
“Penghasilan sebagai petani dianggap masih rendah. Selain itu, beratnya beban pekerjaan tanpa didukung modernisasi peralatan pertanian membuat pemuda semakin malas untuk bertani,” katanya lagi.
Karena itu, HKTI Langkat ingin menjadikan momentum pelantikan sebagai titik awal gerakan regenerasi petani. Pembentukan struktur PAC hingga ranting akan diarahkan bukan hanya untuk memperkuat organisasi, tetapi juga menjadi basis penjaringan kader-kader muda yang kelak diharapkan mampu meneruskan estafet pertanian.
Dicky menegaskan, persoalan regenerasi tidak dapat dibebankan hanya kepada petani atau organisasi pertanian. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan juga harus ikut menciptakan ekosistem pertanian yang membuat anak muda melihat sektor tersebut sebagai bidang yang memiliki masa depan.
“Krisis regenerasi petani ini harus segera ditindaklanjuti oleh semua pihak demi keberlanjutan ketahanan bangsa dan negara, khususnya Kabupaten Langkat,” tegasnya.
Kini tantangan HKTI Langkat bukan lagi sekadar bagaimana membangun kepengurusan, tetapi membuktikan bahwa pertanian mampu menjadi pilihan masa depan bagi generasi muda. Jika target 1.000 kader itu berhasil diwujudkan, HKTI Langkat tidak hanya membangun barisan organisasi, tetapi juga sedang menyiapkan generasi baru yang diharapkan menjadi tulang punggung pertanian Negeri Bertuah.
Untuk diketahui, susunan inti DPC HKTI Kabupaten Langkat periode 2026–2031 yakni H Dedek Pradesa sebagai Ketua, Dicky Suhendro sebagai Sekretaris, dan Thomas Saputra sebagai Bendahara. (Misno)






Discussion about this post