INformasinasional.com, Langkat — Disimpang yang bernama Tugu Merdeka, ironi itu dipertontonkan tanpa tedeng aling-aling. Seorang sopir truk cold diesel dihentikan, ditekan, lalu diminta “uang jalanan” Rp 300 ribu. Tak ada jasa, tak ada kerja, hanya klaim kuasa yang dipaksakan. Kamera ponsel merekam.
Video yang viral pada Sabtu (25/4/2026) itu memperlihatkan negosiasi yang terasa lebih seperti intimidasi. Dari Rp 300 ribu turun ke Rp 200 ribu. Sopir bertahan di Rp 100 ribu, batas yang ia anggap masuk akal untuk sesuatu yang bahkan tak pernah ia minta.
Perdebatan singkat itu berakhir dengan satu hal yang janggal, uang berpindah tangan, dan selembar karcis diselipkan, seolah memberi stempel resmi pada praktik yang dipersoalkan.
Salah satu pria berbaju hitam bahkan mengaku bagian dari SPSI. Klaim yang, jika benar, menyeret nama organisasi kedalam pusaran praktik jalanan yang sulit dibenarkan.
Peristiwa itu terjadi dipersimpangan Jalan Cut Nyak Dien dan Jalan Masjid, Kecamatan Pangkalan Susu, Selasa (21/4/2026). Titik lalu lintas biasa yang mendadak berubah menjadi etalase pungutan liar, kasat mata, terekam, dan tak terbantahkan.
Kapolres Langkat AKBP David Triyo Prasojo memastikan aparat bergerak cepat. Empat pria, J (51), N (55), S (50), dan T (52) diamankan. “Langsung ditindaklanjuti oleh Unit Reskrim Polsek Pangkalan Susu,” kata David, Sabtu.
Pengakuan pun muncul. Salah satu pelaku mengakui sempat meminta Rp 300 ribu kepada sopir. Fakta yang menegaskan bahwa praktik itu bukan sekadar salah paham, melainkan tindakan yang disadari.
Namun, dititik inilah cerita berubah arah. Alih-alih bergulir keproses hukum yang lebih jauh, kasus ini berhenti dimeja mediasi.
Polisi memfasilitasi perdamaian. Para pelaku meminta maaf, korban menerima, dan selembat surat pernyataan ditandatangani. Perkara pun ditutup.
Cepat, rapi, selesai.
Tapi justru disitulah letak keganjilannya. Ketika praktik yang terang-benderang terekam publik berakhir dengan damai administratif, publik menyisakan satu tanya, apakah efek jera benar-benar tercipta, atau hanya jeda sebelum pola yang sama berulang?
Dijalan-jalan logistik seperti Pangkalan Susu, sopir truk sudah lama akrab dengan “biaya tak resmi” beban senyap yang menggerus penghasilan. Video ini bukan anomali. Ia hanya kebetulan tertangkap kamera.
Dan seperti banyak kasus serupa, sorotan publik mungkin akan mereda. Tapi ditikungan berikutnya, disimpang lain yang tak terawasi, praktik itu bisa saja kembali hidup diam-diam, sistematis, dan dianggap biasa.(misn’t)






Discussion about this post