INformasinasional.com, MEDAN — Politik Kota Medan kembali memanas. Bukan lewat podium resmi, bukan pula dari ruang rapat ber-AC, melainkan dari selembar kain besar yang dibentangkan ditepi jalan.
Spanduk itu menampar mata siapa pun yang melintas.
“Lebih Baik Wali Kota Pomade Daripada Pemimpin Mesum, Clear Ya.”
Kalimatnya pendek. Tajam. Menggoda rasa ingin tahu. Sekaligus menyulut bisik-bisik liar diwarung kopi hingga grup WhatsApp keluarga.
Perang Spanduk diera Rico-Zaki
Aksi ini bukan berdiri sendiri. Sebelumnya, spanduk bertuliskan “Menggugat! Rico Waas Mundur! #WalkotaPomadeOut” lebih dulu bertebaran, tepat setahun kepemimpinan Wali Kota Medan Rico Waas bersama wakilnya Zakiyuddin.


Momentum itu beriringan dengan unjuk rasa Cipayung Plus. Nada protesnya terang, evaluasi, bahkan desakan mundur.
Namun balasan yang muncul justru lebih pedas. Selain kalimat kontroversial soal “pemimpin mesum”, ada pula sindiran frontal,
“Biar Tahu Kelen Wooi! Sejak Rico Wali Kota Medan, Calo Jabatan, Koruptor Proyek Stress! Mampos Klen Kan.”
Spanduk-spanduk itu terpasang dititik strategis, Jalan T. Amir Hamzah, Jalan Kapten Muslim, hingga Jalan Sisingamangaraja depan Taman Makam Pahlawan. Lokasi yang tak mungkin luput dari perhatian.
Medan mendadak jadi panggung satire politik terbuka.
Siapa “Pemimpin Mesum”?
Disinilah letak sensasinya.
Siapa yang dimaksud “pemimpin mesum”?
Tak ada nama. Tak ada inisial. Hanya insinuasi. Namun justru karena samar, publik dibuat berspekulasi. Media sosial pun riuh. Ada yang menilai ini pembelaan, ada pula yang menyebutnya pengalihan isu.
Narasi “pomade” sendiri sudah lama melekat sebagai sindiran gaya kepemimpinan yang dinilai lebih sibuk pada pencitraan ketimbang substansi. Kini istilah itu dibalik menjadi tameng pembanding, lebih baik soal penampilan daripada soal moral.
Sindiran ini terasa seperti duel tak kasat mata antara dua kubu pengkritik dan pembela.
Demokrasi atau Drama?
Sekretaris Jenderal LSM Mimbar Suara Rakyat Indonesia (MSRI), Andi Nasution, menilai, masyarakat tak perlu sibuk menebak siapa penunggang dibalik aksi spanduk itu.
“Ini bagian dari aspirasi berdemokrasi,” katanya.
Menurutnya, kemunculan spanduk, baik yang menggugat maupun yang membela adalah cermin ketidakpuasan sekaligus dukungan yang hidup berdampingan.
Namun satu hal tak terbantahkan, suhu politik Medan belum benar-benar teduh.
Setahun Kepemimpinan, Banyak Catatan
Setahun bukan waktu singkat. Masyarakat tentu punya ekspektasi. Dari persoalan tata kota, pelayanan publik, hingga isu birokrasi yang kerap disorot.
Sebagian warga menilai masih banyak pekerjaan rumah pemerintahan Rico-Zaki yang belum terjawab tuntas dengan program terukur dan transparan.
“Pemimpin itu tempatnya fitnah, jangan terlalu baper,” kata Andi.
Pernyataan yang terdengar menenangkan—namun sekaligus menyiratkan bahwa badai kritik adalah risiko jabatan.
Medan, Kota dengan Memori Panjang
Sejarah politik Medan bukan tanpa riak. Kota ini berkali-kali menyaksikan ketegangan antara penguasa dan pengkritik. Spanduk hari ini bisa jadi sekadar lembar kain. Tapi pesan didalamnya adalah simbol perlawanan, pembelaan, dan pertarungan opini.
Ditengah lalu lintas padat dan deru klakson, perang kata-kata itu berkibar.
Pomade atau mesum?
Citra atau moral?
Atau sekadar drama politik yang akan hilang tersapu hujan berikutnya?
Yang jelas, satu kalimat diatas kain putih itu berhasil melakukan satu hal,
Membuat Medan berhenti sejenak, membaca, bertanya, dan membicarakan siapa sebenarnya yang sedang disindir.(Misno Adi)






Discussion about this post