INformasinasional.com, LANGKAT – Kecelakaan kerja serius terjadi diproyek rehabilitasi salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Padang Tualang, Kabupaten Langkat. Seorang pekerja, Ismail alias Is (54), warga Desa Karang Sari, Kecamatan Padang Tualang, Langkat, meninggal dunia Jumat (24/7/2026) subuh di RSU Bidadari kecamatan Wampu, Langkat. Korban mengalami cedera berat dibagian kepala setelah terjatuh saat memasang instalasi listrik. Korban sempat menjalani perawatan intensif dalam kondisi koma diruang ICU RSU Putri Bidadari.
Peristiwa nahas tersebut terjadi pada Kamis (23/7/2026) sekitar pukul 11.45 WIB. Saat itu korban tengah bekerja memasang instalasi listrik dengan menggunakan tangga sebagai alat bantu. Belum diketahui secara pasti penyebab insiden tersebut, namun korban diduga kehilangan keseimbangan hingga terjatuh dan menghantam lantai ruang kelas.
Suara benturan keras disertai teriakan minta tolong membuat para pekerja yang sedang beristirahat berhamburan menuju lokasi. Saat ditemukan, korban sudah terkapar bersimbah darah.
Salah seorang rekan kerja korban, Paidi, mengatakan, dirinya bersama pekerja lain sedang beristirahat makan ketika mendengar suara benda jatuh.
“Kami lagi istirahat sambil makan. Tiba-tiba terdengar suara orang jatuh dan minta tolong. Kami langsung kelokasi, ternyata Is sudah terkapar. Dari hidung dan telinganya keluar darah, begitu juga luka robek dibagian belakang kepalanya terus mengeluarkan darah,” kata Paidi.
Menurutnya, saat kejadian mandor proyek bernama Agus juga berada dilokasi. Proyek tersebut disebut dikerjakan oleh pemborong yang dikenal dengan nama Iyek, warga Tanjung Pura.
Paidi mengaku pihak pekerja kemudian menghubungi keluarga korban. Namun ketika ditanya apakah seluruh pekerja telah didaftarkan sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, ia mengaku tidak mengetahui.
“Kalau soal BPJS Tenaga Kerja, saya tidak tahu,” katanya.
Pantauan dilokasi proyek menunjukkan tidak terlihat adanya spanduk Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagaimana lazim dipasang pada proyek konstruksi. Selain itu, sejumlah pekerja juga disebut tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti helm proyek maupun perlengkapan keselamatan lainnya.
Proyek tersebut diketahui merupakan Program Revitalisasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun Anggaran 2026.
Sumber dilokasi menyebut kondisi itu diduga bertentangan dengan standar operasional prosedur (SOP) pekerjaan konstruksi yang semestinya diterapkan dalam pelaksanaan proyek pemerintah.
Tak hanya itu, muncul pula dugaan bahwa pihak pelaksana proyek tidak segera memberikan penanganan maksimal terhadap korban setelah insiden terjadi. Korban sempat dibawa keklinik terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama, sebelum akhirnya keluarga mengambil alih dan membawanya ke RSU Putri Bidadari Stabat karena kondisi korban terus memburuk.
Sebelum dinyatakan meninggal dunia, kakak korban sempat membenarkan kondisi adiknya masih sangat kritis dan belum sadarkan diri. “Benar, adik saya sekarang masih dirawat intensif diruang ICU lantai 4 RSU Putri Bidadari. Sampai sekarang belum sadar. Dari hidung dan telinganya sempat keluar darah, dan ada luka robek dibagian belakang kepala,” katanya melalui pesan WhatsApp, Kamis malam.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Sekolah yang disebut bertindak sebagai Ketua Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) maupun pihak pemborong Iyek belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan masih belum mendapat respons.
Insiden ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan pekerja pada proyek pemerintah. Jika benar prosedur keselamatan kerja tidak dijalankan sebagaimana mestinya, maka persoalan tersebut berpotensi menjadi bahan evaluasi terhadap pelaksanaan proyek revitalisasi sekolah, termasuk kepatuhan terhadap penerapan K3 dan perlindungan jaminan sosial bagi para pekerja.
Reporter: Z Lubis
Editor: Misno






Discussion about this post