INformasinasional.com, Langkat – Air bah memang telah surut. Tetapi jejaknya masih menganga. Disejumlah sudut Kabupaten Langkat, ruang-ruang kelas yang dulu riuh oleh tawa anak-anak kini sempat berubah menjadi ruang lumpur. Meja patah, buku hanyut, papan tulis retak. Banjir besar medio akhir 2025 bukan hanya menenggelamkan jalan dan jembatan,,ia juga nyaris merendam harapan.
Di Desa Alur Gadung, Kecamatan Sawit Seberang, Yayasan Pendidikan Al Farizd menjadi salah satu saksi bisu. Sekolah yang menjadi tempat anak-anak menggantungkan cita-cita itu ikut porak-poranda. Fasilitas pendidikan rusak, alat belajar musnah, dan ruang bermain anak kehilangan fungsinya. Dunia pendidikan Langkat terpukul, dan masyarakat menunggu: siapa yang benar-benar peduli?
Jawabannya datang dari dua korporasi perkebunan dan pengolahan minyak sawit, PT Bulu Telang dan PT Langkat Makmur Jaya Sawita (LMJS). Ditengah sorotan terhadap industri sawit yang kerap dituding abai pada lingkungan, langkah mereka justru bergerak senyap tapi nyata.
Sabtu, 14 Februari lalu, bantuan berupa mobiler, buku-buku, dan alat bermain anak diserahkan kepada Yayasan Al Farizd. Bukan seremoni gemerlap. Tak ada panggung megah. Yang ada hanya wajah-wajah guru yang sumringah dan anak-anak yang kembali melihat ruang kelas sebagai ruang masa depan, bukan ruang trauma.
“Ini bukan sekadar bantuan, ini napas baru bagi sekolah kami,” kata Ratna Puspita, S.Pd, Ketua Yayasan Al Farizd, dengan mata berkaca-kaca. Ia mengakui, pasca banjir, pihaknya sempat kebingungan memulihkan fasilitas pendidikan. “Kami merasa sangat bersyukur. Kepedulian ini membuat kami bisa merajut kembali area pendidikan yang sempat lumpuh.”

Sebagai bentuk apresiasi, Yayasan Al Farizd menyerahkan piagam penghargaan kepada manajemen PT Bulu Telang yang diwakili Sardi, Supriadi, dan Surya, serta kepada direksi PT LMJS yang diwakili Eddy. Penghargaan itu bukan sekadar bingkai di dinding—melainkan simbol bahwa tanggung jawab sosial korporasi bukan jargon kosong.
“Kami tidak menduga kepedulian ini sedemikian dihargai,” kata Surya mewakili PT Bulu Telang. “Kami hanya ingin berbagi dan membantu.”
Sementara itu, Eddy dari PT LMJS menegaskan bahwa membantu pendidikan semestinya bukan reaksi sesaat akibat bencana. “Ini tanggung jawab bersama. Bukan hanya karena banjir, tapi karena pendidikan adalah masa depan.”
Pernyataan itu terasa menohok. Di tengah derasnya arus investasi dan ekspansi industri, sering kali pendidikan disekitar wilayah operasional perusahaan luput dari prioritas. Program CSR kerap menjadi formalitas laporan tahunan. Namun di Langkat, setidaknya kali ini, kepedulian hadir dalam wujud nyata.
Banjir 2025 memang menyisakan luka. Tetapi dari puing-puing itu, muncul pesan yang lebih keras dari sekadar simpati, korporasi tidak boleh berdiri di menara gading keuntungan semata. Mereka hidup di tengah masyarakat dan ikut memikul beban sosialnya.
Langkah PT Bulu Telang dan PT LMJS mungkin belum menutup seluruh kerusakan yang terjadi. Namun ia telah mengirim sinyal penting: dunia usaha bisa menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton bencana.
Kini, publik menanti. Akankah lebih banyak perusahaan di Langkat, dan Sumatera Utara, mengikuti jejak ini? Atau kepedulian akan kembali surut bersama air bah?
Diruang-ruang kelas yang perlahan kembali tertata, anak-anak mulai belajar lagi. Dan disana, diantara buku dan bangku baru, terselip harapan bahwa kepedulian bukan hanya slogan, melainkan komitmen yang terus menyala.(MZ Lubis)






Discussion about this post