INformasinasional.com – Hujan deras, banjir bandang, dan longsor yang menyapu Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh sejak pekan terakhir November 2025 bukan sekadar bencana musiman. Di Aceh Tamiang, empat desa lenyap seakan ditelan bumi. Rumah-rumah hilang, jembatan tumbang, dan ribuan warga terseret arus bah. Dari laporan lapangan, genangan air bukan lagi ukuran lutut atau pinggang, tetapi tembok air setinggi 2 sampai 8 meter yang menyapu seperti amukan perang.
Namun, dengan skala kerusakan yang nyaris setara kengerian Ukraina atau Gaza, pemerintah pusat tetap bersikukuh, bencana ini tetap berstatus bencana daerah, bukan nasional.

Pertanyaan publik pun menggema, apa yang sebenarnya sedang disembunyikan?
Diantara deru lumpur dan air bah, sejumlah pengamat kebencanaan dan aktivis lingkungan berbisik hal yang sama, kenaikan status menjadi bencana nasional bisa membuka kotak pandora.
Kotak pandora apa?
Yang selama ini berusaha ditutup rapat.
Izin-izin perkebunan sawit dikawasan lindung.
Tambang emas ilegal yang menggerogoti punggung bukit.
Perampasan tanah adat yang mengubah hutan menjadi barisan excavator.

Para elite lokal dan nasional yang disebut-sebut mendapat “oksigen” politik dan ekonomi dari industri gelap penggundulan hutan.
Jika status dinaikkan menjadi bencana nasional, dunia internasional akan menyorot. Media global akan menelanjangi peta kerusakan hutan Sumut, Sumbar, dan Aceh.
Dan saat itu terjadi, banyak pejabat yang kini tertawa dibalik meja berlapis kayu jati, mungkin akan kehilangan kursi, proyek, dan perlindungan.

Itulah sebabnya, menurut sejumlah analis, lebih aman menyebut bencana ini sebagai “musibah cuaca” sebuah frasa yang sering dipakai untuk menutupi jejak panjang kerakusan manusia.
Angka Kematian Terus Naik “Ini Bukan Bencana Kecil”
Digedung parlemen Senin, 8 Desember 2025, suasana berubah tegang saat Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyampaikan laporan terbaru.
“Jumlah korban meninggal total ada 974 jiwa,” kata Syafii.
Jumlah itu melonjak dari sehari sebelumnya dan masih berbeda dengan data BNPB, yang mencatat 961 jiwa pada geoportal resmi Senin (8/12/2025) sore.(Misno)






Discussion about this post