INformasinasional.com, LANGKAT — Ditengah senyapnya perhatian pascabencana, sekelompok anak muda justru memilih bergerak. Bukan sekadar datang membawa simpati, mereka hadir dengan aksi nyata. Komunitas SahaKarya menggelar safari donasi ke Yayasan Alfarizd, menyalakan kembali harapan pendidikan anak-anak yang sempat lumpuh dihantam banjir besar medio November 2025.
Rombongan yang bermarkas di Jalan Beo Sei Sekambing, Medan itu dipimpin Khaliq Arkhan. Mereka tiba, Minggu (8/3/2026), dengan satu misi, memastikan ruang belajar yang pernah porak-poranda diterjang banjir tidak berubah menjadi kenangan pahit berkepanjangan. Khaliq tak bisa menyembunyikan getar emosinya saat mengenang kunjungan pertama mereka pascabencana. Air bah, kata dia, telah melumat ruang kelas, merusak fasilitas belajar, dan memaksa aktivitas pendidikan terhenti.
“Kami melihat langsung bagaimana ruang kelas hancur, perlengkapan belajar rusak, dan anak-anak kehilangan tempat menimba ilmu. Itu momen yang menggugah nurani kami,” katanya.
Sejak saat itu, SahaKarya menjadikan lokasi terdampak sebagai titik pengabdian. Komunitas yang berdiri pada 2023 tersebut memang lahir dari persahabatan lama, kawan SMA yang kembali dipertemukan dibangku kuliah. Dari sekadar menjaga silaturahmi, mereka menjelma menjadi gerakan sosial yang konsisten menebar manfaat.
Nama SahaKarya, yang diambil dari bahasa Sanskerta, berarti gotong royong atau saling menolong. Filosofi itu bukan sekadar jargon. Mereka menerjemahkannya lewat aksi konkret, menghadirkan ruang bermain, dukungan psikososial, hingga bantuan perlengkapan pendidikan bagi anak-anak terdampak bencana.
Dalam safari kali ini, bantuan yang dibawa tak tanggung-tanggung, peralatan olahraga, alat permainan anak, terpal alas lantai, meja belajar, hingga berbagai perlengkapan penunjang aktivitas pendidikan usia dini.
Kehadiran mereka turut didampingi Ketua DPD Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia Kabupaten Langkat, Zaid Lubis, yang memberikan apresiasi atas konsistensi gerakan sosial anak muda tersebut.
Menurutnya, aksi nyata seperti ini menjadi bukti bahwa kepedulian generasi muda bukan sekadar riuh dimedia sosial, tetapi benar-benar hadir ditengah masyarakat yang membutuhkan.
Tokoh masyarakat H Abd Latief, jajaran pengurus komunitas, pihak yayasan, dewan guru, hingga perwakilan warga ikut menyaksikan penyerahan bantuan yang berlangsung hangat dan penuh haru.
Tak ada panggung megah. Tak ada seremoni berlebihan. Namun senyum anak-anak yang kembali memegang alat permainan dan perlengkapan belajar menjadi penanda, harapan itu belum padam.
Safari donasi ditutup dengan buka puasa bersama. Sederhana, namun sarat makna kebersamaan.
Ditengah derasnya arus individualisme, aksi SahaKarya seperti tamparan halus, kemanusiaan tak boleh ikut hanyut bersama banjir. Generasi muda membuktikan, solidaritas masih hidup, dan pendidikan tetap harus berdiri, setinggi apa pun air pernah menggenang.*






Discussion about this post