INformasinasional.com* KLAIM ketersediaan bahan bakar minyak terdengar menenangkan dari balik podium. Namun realitas dilapangan justru menampar keras. Disejumlah wilayah Medan dan Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, SPBU kehabisan stok. Pompa-pompa membisu. Tangki kendaraan menganga kosong. Warga pun geram.
Sejak Sabtu (7/3/2026), deretan SPBU diruas Jalinsum kawasan Besitang hingga Pangkalan Brandan lumpuh tanpa pasokan. SPBU di Brandan Barat, Pangkalan Brandan, Desa Paluh Manis, hingga Pekan Gebang kompak memasang “BBM dalam perjalanan”.
Ironisnya, tulisan itu terpampang berjam-jam tanpa kepastian kapan truk tangki benar-benar datang.

Warga yang sejak subuh mengantre hanya bisa menatap papan pengumuman sambil mengelus dada.
“Macam mana kami mau kerja, minyak tak ada sejak semalam. Jangan cuma pandai komentar dimedia. Ini bukan panic buying, ini orang susah!” keluh Herman, sopir angkutan barang di Paluh Manis, Minggu (8/3/2026).
Nada serupa datang dari Rajali. Ia menilai situasi sudah melewati batas kewajaran. “Kalau begini terus, ekonomi rakyat kecil yang mati duluan.”
Kondisi paling terasa menghantam kendaraan berbahan bakar solar. Antrean truk mengular panjang hingga memakan badan Jalan Lintas Sumatera. Arus lalu lintas tersendat. Distribusi barang ikut terhambat.
Medan “Demam Pertalite” Isu 21 Hari Bikin Kota Panik
DiMedan, kepanikan datang lebih dulu. Pesan berantai yang menyebut stok BBM hanya cukup 21 hari menyebar liar sejak Kamis malam. Isu itu menyulut gelombang pembelian besar-besaran.
SPBU di Jalan Dr Mansyur, Sei Batanghari, Sei Serayu, hingga Setia Budi berubah bak lautan kendaraan. Roda dua dan roda empat berebut giliran. Antrean merayap pelan seperti ular besi tak berujung.
“Trauma kelangkaan masa lalu membekas kuat di benak warga.
Kita ini cuma rakyat kecil, tak pernah ada kepastian”
Fenomena serupa menjalar kewilayah Langkat. Antrean panjang terlihat di SPBU Desa Cempa, Batu Melenggang (Hinai), hingga Kecamatan Wampu. Kendaraan solar menjadi barisan paling dominan, mengular panjang, meluber kebahu jalan, memperparah kemacetan Jalinsum.
Pertamina: Stok Aman, Distribusi Normal
Ditengah kepanikan yang telanjur meluas, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut memastikan kondisi energi tetap terkendali.
Area Manager Communication, Relations & CSR Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menegaskan pasokan BBM dan LPG dalam kondisi aman serta terus disalurkan sesuai kebutuhan.
“Penyaluran BBM kepada masyarakat tetap berjalan normal. Stok untuk Aceh dan wilayah Sumatera Utara dalam kondisi aman,” katanya.

Pertamina juga mengklaim telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi lonjakan konsumsi menjelang Ramadan dan Idulfitri, termasuk peningkatan cadangan stok dan penguatan sarana distribusi.
Lebih jauh, perusahaan menegaskan isu “stok tersisa 21 hari” adalah informasi palsu.
“Kami mengimbau masyarakat tidak mudah percaya pada pesan berantai yang sumbernya tidak jelas,” kata Fahrougi.
Klarifikasi Kalah Cepat dari Kepanikan
Masalahnya, penjelasan resmi datang terlambat. Isu telanjur menyebar bak api disiram bensin. Dalam hitungan jam, kabar liar menjelma kepanikan massal.
Masyarakat tak peduli konferensi pers. Yang mereka lihat hanya satu, nozzle tak mengucur, layar dispenser mati, dan antrean kian panjang.
Klaim stok aman pun terdengar hampa ketika SPBU-SPBU justru kosong.
Dijalanan Sumatera Utara, realitas berbicara lebih keras daripada klarifikasi. Pompa kering telah menjadi alarm paling nyaring bahwa ada yang tak beres dalam rantai distribusi energi negeri ini.(Misno)






Discussion about this post