INformasinasional.com, JAKARTA — Ditengah tantangan pemulihan pascabanjir yang masih membekas disejumlah wilayah, Bupati Langkat H Syah Afandin SH justru membawa langkah yang melampaui sekadar agenda birokrasi. Dari Jakarta, ia menjemput peluang besar, menjadikan Kabupaten Langkat sebagai model nasional kebangkitan ekonomi perempuan berbasis potensi lokal dan kemanusiaan.
Komitmen itu mengemuka saat Syah Afandin menghadiri rapat kerja bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Republik Indonesia di Kantor Kementerian PPA, Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026). Kehadiran orang nomor satu di Langkat itu disambut langsung Wakil Menteri PPA, Veronica Tan, dalam forum strategis yang membahas penguatan ekonomi kreatif perempuan hingga revitalisasi fasilitas layanan perlindungan perempuan dan anak yang terdampak banjir. Pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi agenda formal pemerintahan.
Dibalik meja rapat, tersimpan visi besar tentang bagaimana perempuan desa, pelaku UMKM, hingga kelompok rentan dapat menjadi tulang punggung ekonomi baru yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan berakar pada kekayaan lokal.
Salah satu program unggulan yang menjadi sorotan adalah pengembangan kebun pangan lokal dikawasan Tangkahan. Program ini diarahkan untuk membuka ruang ekonomi baru bagi perempuan melalui pengelolaan pangan lokal yang produktif, kreatif, dan bernilai ekonomi tinggi.

Menariknya, Kementerian PPA menempatkan Kabupaten Langkat sebagai daerah yang diproyeksikan menjadi percontohan nasional dalam implementasi program tersebut. Suatu kepercayaan yang tidak hanya prestisius, tetapi juga sarat tanggung jawab.
Bagi Syah Afandin, peluang itu bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan momentum untuk mengangkat harkat masyarakat dari akar rumput.
“Ini bukan hanya tentang program pemerintah, tetapi tentang membuka harapan baru bagi perempuan-perempuan didesa agar memiliki ruang tumbuh, mandiri secara ekonomi, dan mampu menjadi penggerak kesejahteraan keluarga,” kaya Syah Afandin dengan nada optimistis.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Langkat siap membuka pintu kolaborasi seluas-luasnya demi memastikan program tersebut tidak berhenti sebagai wacana pusat, melainkan benar-benar hadir dan hidup ditengah masyarakat.
“Kami ingin Langkat tidak hanya menjadi peserta program, tetapi menjadi daerah yang mampu menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan bisa menjadi kekuatan besar pembangunan daerah,” katanya.
Namun langkah Syah Afandin di Jakarta tidak berhenti pada urusan ekonomi kreatif. Dalam forum yang sama, ia juga membawa suara masyarakat terdampak banjir, khususnya terkait kondisi sarana dan prasarana UPTD PPKB/PPA yang hingga kini membutuhkan perhatian serius.
Menurutnya, keberadaan layanan perlindungan perempuan dan anak menjadi kebutuhan yang tak bisa ditunda, terutama ditengah situasi pascabencana yang sering kali membuat kelompok perempuan dan anak berada pada posisi paling rentan.
“Pelayanan terhadap perempuan dan anak harus tetap berdiri kuat, bahkan ditengah bencana. Karena itu revitalisasi fasilitas menjadi sangat penting agar negara benar-benar hadir bagi masyarakat yang membutuhkan perlindungan,” kata Syah Afandin lagi
Permintaan tersebut mendapat respons positif dari Wakil Menteri PPA Veronica Tan yang menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk memperkuat sinergi bersama daerah, baik dalam pengembangan ekonomi perempuan maupun peningkatan kualitas layanan perlindungan perempuan dan anak.
Pertemuan itu pun menjadi lebih dari sekadar rapat koordinasi. Ia menjelma menjadi panggung lahirnya harapan baru, ketika daerah dan pusat berjalan seiring, perempuan tidak lagi ditempatkan sebagai pelengkap pembangunan, melainkan sebagai pusat kekuatan ekonomi dan sosial yang menentukan arah masa depan. Dan dari Langkat, langkah itu mulai disusun.(Misno)






Discussion about this post