INformasinasional.com, JAKARTA – Sebahagian warga korban banjir, dilanda kegalauan dan menanti kepastian bantuan pascabanjir, Bupati Langkat Syah Afandin memilih tidak berdiam dibalik meja birokrasi. Ia datang langsung ke Jakarta, membawa satu hal yang paling mendesak dari tanah Langkat, harapan masyarakat yang belum sepenuhnya tersentuh bantuan.
Langkah itu dilakukan menyusul munculnya aspirasi dan protes warga terkait distribusi bantuan banjir yang dinilai belum merata. Tak tega membiarkan keresahan berkembang menjadi jarak antara pemerintah dan rakyat, Bupati Syah Afandin yang selalu dekat dengan rakyat miskin, memilih membuka jalan dialog dan mengetuk langsung pintu pemerintah pusat.
Rabu (6/5/2026), di Kantor Kementerian Sosial RI, Jakarta, Syah Afandin diterima Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf atau Gus Ipul bersama jajaran Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana (PSKB). Pertemuan itu bukan sekadar agenda seremonial birokrasi, melainkan ruang perjuangan untuk memastikan tidak ada warga terdampak banjir yang tercecer dari perhatian negara.
Bupati Langkat hadir bersama perwakilan masyarakat terdampak dari Kecamatan Besitang dan Tanjung Pura, serta sejumlah OPD terkait. Kehadiran warga dalam forum resmi itu menjadi simbol bahwa suara masyarakat tidak hanya didengar, tetapi juga dibawa langsung kemeja pengambilan kebijakan.
Dihadapan Menteri Sosial, Syah Afandin menyampaikan apresiasi kepada Presiden RI Prabowo Subianto melalui Kementerian Sosial atas bantuan yang telah digelontorkan bagi masyarakat Langkat sejak masa tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana. Namun dibalik ucapan terima kasih itu, ia juga menyampaikan kenyataan yang masih dihadapi warganya dilapangan.
Menurutnya, masih terdapat masyarakat terdampak yang hingga kini belum menerima bantuan karena proses pendataan dan verifikasi masih berjalan. Situasi itu, kata dia, menjadi perhatian serius pemerintah daerah agar tidak memunculkan rasa ketidakadilan ditengah masyarakat yang sama-sama menjadi korban bencana.
“Aspirasi masyarakat adalah tanggung jawab yang harus kami perjuangkan. Karena itu kami datang langsung untuk memastikan data susulan warga terdampak dapat segera ditindaklanjuti,” kata Syah Afandin, Kamis (7/5/2026).
Nada yang dibangun dalam pertemuan itu bukan semata soal administrasi bantuan, melainkan tentang bagaimana negara hadir secara utuh ditengah masyarakat yang sedang berjuang memulihkan hidupnya.
Sebab, bagi korban banjir, bantuan bukan sekadar angka dalam laporan, tetapi penopang untuk kembali berdiri setelah kehilangan.
Tak berhenti pada bantuan sosial, koordinasi juga dilakukan bersama Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR).
Pembahasan difokuskan pada percepatan pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak, termasuk penyelesaian lahan dikawasan PTPN II Regional I dan langkah strategis percepatan pemulihan pascabencana.
Bagi banyak keluarga korban banjir, kepastian hunian menjadi harapan paling mendasar setelah berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian. Karena itu, percepatan pembangunan huntap dinilai bukan hanya proyek pembangunan fisik, tetapi bagian dari pemulihan martabat dan rasa aman masyarakat.
Langkah cepat Pemerintah Kabupaten Langkat pun mendapat respons positif dari warga yang ikut hadir dalam pertemuan tersebut.
Said Abdullah, perwakilan masyarakat dari Kecamatan Tanjung Pura, mengaku melihat kesungguhan pemerintah daerah dalam memperjuangkan kebutuhan masyarakat terdampak.
“Kami melihat langsung bagaimana pemerintah daerah membawa persoalan ini kepusat. Itu membuat masyarakat merasa diperhatikan,” katarnya.
Hal serupa disampaikan Sauli Lubis dari Kecamatan Besitang. Ia berharap proses penyaluran bantuan dan pembangunan hunian dapat berjalan lebih cepat sehingga masyarakat bisa segera bangkit dari dampak bencana.
“Kami hanya ingin seluruh masyarakat yang terdampak benar-benar merasakan kehadiran pemerintah,” katanya.
Ditengah sorotan publik terhadap penanganan banjir di Langkat, langkah Syah Afandin menuju Jakarta menjadi pesan bahwa kepemimpinan bukan sekadar hadir saat keadaan tenang, tetapi diuji ketika masyarakat sedang menghadapi kesulitan.
Dan ditengah luka akibat bencana, yang paling dibutuhkan warga sesungguhnya bukan hanya bantuan, melainkan keyakinan bahwa mereka tidak ditinggalkan menghadapi musibah sendirian.(Misno)






Discussion about this post