INformasinasional.com, LAMPUNG SELATAN — Video air laut yang disebut mendadak mengering hingga membuat kapal seolah-olah tersandar didaratan, menggemparkan media sosial. Rekaman tersebut memantik kekhawatiran publik, terlebih terjadi ditengah meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Namun, dibalik video yang viral itu, terdapat dua fakta berbeda yang perlu dipisahkan.
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Bakauheni memastikan salah satu video berdurasi 29 detik yang beredar di Facebook dengan narasi kondisi Pelabuhan Bakauheni mengkhawatirkan tidak direkam dikawasan Pelabuhan Bakauheni.
Video tersebut sebelumnya diunggah akun Facebook bernama Penangkal Petir Liyantona dengan narasi yang menyebut air laut mulai surut didekat Pelabuhan Bakauheni. “Kondisi saat ini sangat mengkhawatirkan bolo, air laut mulai surut dekat Pelabuhan Bakauheni,” demikian narasi yang menyertai video tersebut.
Kepala KSOP Bakauheni, Suratno, menegaskan hasil pengecekan visual menunjukkan lokasi dalam rekaman memiliki karakteristik kawasan docking atau scraping kapal, bukan kawasan Pelabuhan Bakauheni.
Dalam video terlihat sejumlah kapal dengan berbagai ukuran dan jenis, termasuk kapal kargo, tanker hingga struktur yang menyerupai rig pengeboran.
Pemandangan tersebut dinilai tidak sesuai dengan kondisi fisik maupun fasilitas yang ada di Pelabuhan Bakauheni.
Dengan demikian, klaim bahwa video tersebut menggambarkan kondisi Pelabuhan Bakauheni dinyatakan tidak benar.
Fenomena Surut Memang Terjadi di Pesisir Ruguk
Ditengah beredarnya video yang dinyatakan keliru tersebut, fenomena air laut surut signifikan memang terekam diwilayah pesisir Ruguk, kawasan Bakauheni, Lampung Selatan, pada Minggu (6/9/2026).
Air laut terlihat mundur cukup jauh hingga memperlihatkan hamparan dasar laut. Fenomena itu sontak memicu kekhawatiran warga karena waktunya berdekatan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kekhawatiran masyarakat pun berkembang menjadi spekulasi mengenai kemungkinan tsunami.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan hasil pemantauan sistem InaTEWS tidak menemukan anomali muka air laut yang mengarah pada tsunami disekitar Selat Sunda. BMKG menyatakan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau memang terekam oleh stasiun seismograf. Akan tetapi, tidak ditemukan perubahan muka air laut yang menunjukkan adanya tsunami pada waktu kejadian.
“Aktivitas erupsi terekam pada stasiun seismograf, namun tidak ditemukan adanya anomali tsunami disekitar waktu kejadian,” demikian keterangan resmi BMKG, Minggu (6/9/2026).
BMKG menjelaskan, kondisi surut tersebut berkaitan dengan dinamika pasang surut astronomis yang dapat dipengaruhi kondisi angin, cuaca maritim dan gelombang harian.
Masyarakat diminta tidak panik serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama konten media sosial yang mengaitkan fenomena tersebut secara langsung dengan tsunami.
28 Kapal Tetap Berlayar
Disektor transportasi laut, aktivitas penyeberangan Merak-Bakauheni juga tetap berjalan normal.
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) bersama KSOP Kelas IV Bakauheni memastikan operasional penyeberangan tetap berlangsung aman dan kondusif.
Sebanyak 28 kapal ferry tetap melayani lintasan Bakauheni-Merak maupun sebaliknya. Sebaran abu vulkanik memang sempat dirasakan di sekitar pelabuhan, tetapi belum mengganggu operasional pelayaran.
KSOP Bakauheni sebelumnya juga menyebut jarak pandang kapal masih berada dalam batas aman, sekitar tiga mil laut atau 5,5 kilometer.
Aktivitas penyeberangan tetap berjalan dengan sekitar 100 trip per hari, sementara volume penumpang berada di kisaran 6.000 hingga 7.700 orang setiap harinya.
AHY: Tidak Ada Indikasi Tsunami
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), turut memastikan belum ada indikasi tsunami di Selat Sunda akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pernyataan itu disampaikan AHY kepada wartawan di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Senin (7/9/2026).
Menurut AHY, pemerintah terus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk memastikan keamanan lintasan Merak-Bakauheni.
“Secara umum ini masih bisa beroperasi dengan baik karena dari dua-tiga hari terakhir ini tidak diindikasikan terjadi peningkatan permukaan air laut yang sangat ekstrem, sea level rise dan juga gelombang yang masih relatif dalam ukuran yang moderat,” kata AHY.
Ia menegaskan tidak ditemukan potensi tsunami. Karena itu, penyeberangan Merak-Bakauheni masih diperbolehkan beroperasi, dengan pengawasan keselamatan yang diperketat. “Jadi tidak ada atau tidak ditemukan potensi tsunami. Bisa dikatakan angkanya di bawah 50%, sehingga pelayaran masih bisa dilakukan, penyeberangan masih bisa dilakukan. Tapi tentu ini semua dalam pengawasan yang ketat karena sekali lagi kita tidak ingin menomorduakan faktor keselamatan,” katanya.
Meski tidak ada indikasi tsunami, pemerintah tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak erupsi Gunung Anak Krakatau, terutama paparan abu vulkanik.
AHY mengingatkan abu vulkanik tidak hanya berpotensi mengganggu penerbangan karena kandungan material silika yang dapat berdampak pada mesin dan operasional landasan pacu, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan masyarakat.
Kelompok rentan seperti lansia, balita serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan diminta lebih berhati-hati.
Pemerintah juga meminta operator kapal dan pengelola pelabuhan terus meningkatkan kesiapsiagaan. Pengguna jasa penyeberangan diminta memantau perkembangan cuaca, aktivitas vulkanik dan informasi resmi pemerintah sebelum melakukan perjalanan.
Ditengah derasnya arus informasi media sosial, satu hal menjadi penting, air laut yang surut tidak otomatis berarti tsunami, dan video viral tidak selalu menggambarkan lokasi sebagaimana narasinya. Fakta, bukan kepanikan, yang harus menjadi pegangan.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Bakauheni, Suratno, membantah bahwa rekaman tersebut diambil dikawasan Pelabuhan Bakauheni dan dipastikan tidak benar atau hoaks, Senin (7/9/2026). (misn’t)
Editor: Ardiansyah






Discussion about this post