INformasinasional.com, MEDAN – Ancaman cuaca ekstrem membayangi Sumatera Utara (Sumut). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sirkulasi siklonik di Samudra Hindia sebelah barat Aceh yang berpotensi memicu hujan lebat hingga sangat lebat, disertai petir dan angin kencang. Warga, terutama yang bermukim di daerah rawan bencana, diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.
Peringatan ini bukan tanpa alasan. Sejumlah faktor atmosfer terpantau mendukung peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah Sumut. Jika hujan berintensitas tinggi berlangsung lama, risiko bencana hidrometeorologi dikawasan rawan dapat meningkat.
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I, Hendro Nugroho, menjelaskan bahwa sirkulasi siklonik di Samudra Hindia sebelah barat Aceh memicu belokan angin dan konfluensi atau pertemuan massa udara diwilayah Sumut.
“Adanya sirkulasi siklonik terbentuk di Samudera Hindia Barat Aceh yang mengakibatkan adanya belokan angin dan konfluensi (pertemuan massa udara) di Sumatera Utara,” kata Hendro, Kamis (22/10/2026).
Kondisi tersebut diperkuat oleh aktivitas gelombang atmosfer dan Madden-Julian Oscillation (MJO), yakni fenomena pergerakan kumpulan awan dan aktivitas hujan di wilayah tropis yang dapat memengaruhi pola cuaca.
Disaat bersamaan, suhu muka laut yang hangat, berkisar 30–31 derajat Celsius, serta tingginya kelembapan udara di seluruh lapisan atmosfer menyediakan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan.
“Dengan adanya faktor-faktor ini, Sumatera Utara diprediksi akan menerima tambahan uap air, sehingga terjadi peningkatan pembentukan awan-awan hujan khususnya di wilayah pantai barat dan pesisir timur,” jelasnya.
BBMKG Wilayah I memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat berpotensi mengguyur sejumlah wilayah Sumut mulai siang hingga dini hari. Hujan juga dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang, dengan durasi yang dalam kondisi tertentu diperkirakan melampaui tiga jam.
Situasi ini perlu diwaspadai, terutama di daerah yang memiliki riwayat banjir, berada di sekitar aliran sungai, memiliki lereng rawan longsor, maupun kawasan dengan sistem drainase yang kurang memadai.
Hujan berintensitas tinggi dalam waktu lama dapat meningkatkan debit sungai, memicu luapan air, serta memperbesar risiko banjir bandang dan longsor diwilayah rentan. Namun, potensi tersebut tidak berarti seluruh daerah yang diprakirakan mengalami hujan lebat pasti akan dilanda bencana.
Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan perkembangan informasi cuaca dan segera mengambil langkah antisipasi apabila kondisi di lingkungan masing-masing menunjukkan tanda-tanda bahaya.
“Masyarakat yang berada di daerah rawan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang,” kata Hendro.
32 Kabupaten/Kota Masuk Daftar Wilayah Berpotensi Hujan Lebat
Peringatan potensi hujan lebat tersebut mencakup wilayah yang tersebar di berbagai kawasan Sumatera Utara, mulai dari pesisir timur, pantai barat, kawasan pegunungan, hingga Kepulauan Nias.
Kabupaten yang berpotensi terdampak: Deli Serdang, Asahan, Serdang Bedagai, Batubara, Humbang Hasundutan, Karo, Labuhanbatu, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu Selatan, Nias, Nias Utara, Nias Barat, Nias Selatan, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Samosir, Simalungun, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Toba, Langkat, Mandailing Natal, Pakpak Bharat, dan Dairi.
Kota yang berpotensi terdampak: Medan, Binjai, Sibolga, Tanjung Balai, Gunungsitoli, Padangsidimpuan, dan Pematangsiantar.
Menghadapi potensi cuaca ekstrem tersebut, warga didaerah rawan banjir dan longsor perlu memastikan saluran air tidak tersumbat, menghindari aktivitas di sekitar sungai saat hujan deras, serta menjauhi lereng yang menunjukkan tanda-tanda pergerakan tanah.
Masyarakat juga perlu mewaspadai kenaikan debit sungai secara mendadak, air yang tiba-tiba menjadi keruh atau membawa material, retakan tanah, serta pohon atau tiang yang mulai miring. Jika muncul tanda bahaya, segera menjauh menuju tempat yang lebih aman dan mengikuti arahan petugas setempat.
Warga diimbau memantau pembaruan prakiraan dan peringatan dini BMKG serta informasi kebencanaan dari BPBD setempat. Dalam situasi darurat, keselamatan jiwa harus menjadi prioritas.
Potensi hujan lebat tidak selalu berujung bencana. Namun, kombinasi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan dan kerentanan wilayah menuntut kesiapsiagaan serius. Kewaspadaan sejak dini menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian akibat bencana hidrometeorologi di Sumatera Utara.(misn’t)
Editor: Ardiansyah






Discussion about this post