INformasinasional.com — Pemerintah pusat menyatakan Sumatra Utara resmi keluar dari status tanggap darurat bencana. Namun, dibalik pernyataan itu, jejak kehancuran dan deretan korban masih menjadi pengingat keras bahwa bencana belum sepenuhnya berlalu.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan tak ada lagi kabupaten atau kota di Sumatra Utara yang menyandang status tanggap darurat. Kepastian itu disampaikan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers yang disiarkan kanal YouTube BNPB Indonesia, Minggu, 4 Januari 2026.
“Di Sumatra Utara ini, transisi darurat ada di 14 daerah. Status tanggap darurat berakhir didua daerah dan tidak diperpanjang. Artinya, saat ini tidak ada lagi kabupaten/kota di Sumatra Utara dengan status tanggap darurat,” ujar Abdul.
Ia menegaskan, Pemerintah Provinsi Sumatra Utara kini masuk fase transisi darurat, suatu tahapan krusial yang menandai pergeseran dari respons darurat menuju pemulihan. Tapi transisi, kata Abdul, bukan berarti situasi sepenuhnya aman.
Sementara itu, Sumatra Barat masih menyisakan satu titik rawan. Kabupaten Agam memperpanjang status tanggap darurat menyusul longsor susulan yang memicu banjir lumpur bercampur batu besar, fenomena lokal yang dikenal sebagai galodo.
“Dibagian hulu masih terdeteksi rekahan-rekahan tanah. Kalau hujan dengan intensitas sedang tapi durasi panjang, potensi longsor susulan masih sangat mungkin terjadi,” kata Abdul.
BNPB menyatakan pemantauan ketat terus dilakukan di Agam, disertai langkah mitigasi untuk menekan risiko bencana lanjutan. Diluar Agam, seluruh kabupaten dan kota di Sumatra Barat kini berada pada fase transisi darurat.
Situasi berbeda terjadi di Aceh. Provinsi Serambi Mekah masih bergulat dengan dampak bencana. Sebanyak 10 daerah memperpanjang status tanggap darurat, sementara 8 daerah lainnya berada pada tahap transisi.
“Di Aceh, tanggap darurat masih diperpanjang oleh 10 daerah, dan 8 daerah lainnya sudah masuk transisi darurat,” ujar Abdul.
Korban Menurun, Tapi Angkanya Masih Mencengangkan
Ditengah penurunan status darurat, angka korban tetap menjadi catatan kelam. BNPB melaporkan jumlah orang hilang berkurang 17 orang. Namun hingga kini, masih ada 148 orang yang belum ditemukan: 31 di Aceh, 43 di Sumatra Utara, dan 74 di Sumatra Barat.
Jumlah pengungsi memang menurun, tetapi skalanya masih massif. Total pengungsi tercatat 242.174 orang. Aceh menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, mencapai 217.780 jiwa. Sumatra Utara mencatat 13.540 pengungsi, disusul Sumatra Barat 10.854 orang.
Memasuki hari ke-40 pascabencana, strategi distribusi bantuan pun berubah. Pemerintah mulai mengoptimalkan jalur darat untuk pengiriman logistik kepusat-pusat pemerintahan daerah. Sementara itu, helikopter dan pesawat difokuskan untuk menjangkau titik-titik pengungsian yang terisolasi.
“Distribusi udara sekarang difokuskan hanya kelokasi pengungsian yang memang tidak bisa dijangkau dari posko kabupaten atau kecamatan,” ujar Abdul. “Untuk posko dipusat pemerintahan, logistik kita dorong lewat jalur darat.”
Data BNPB menunjukkan, sejak 29 November 2025 hingga 3 Januari 2026, sebanyak 1.624,89 ton logistik, atau 99,97 persen dari total kebutuhan telah disalurkan ke Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat melalui jalur darat, laut, dan udara.
Pada Sabtu, 3 Januari 2026 saja, BNPB menyalurkan 31,1 ton logistik ke Aceh, terdiri dari 16,1 ton via udara dan 15 ton via darat. Ke Sumatra Utara, bantuan yang dikirim mencapai 23,98 ton, 11,14 ton melalui udara dan 12,84 ton lewat darat. Sementara Kabupaten Agam menerima 4,47 ton logistik melalui jalur darat.
“Dalam dua minggu terakhir, distribusi ke Sumatra Barat seluruhnya lewat darat karena lebih efektif dan bisa membawa tonase lebih besar,” kata Abdul.
1.177 Nyawa Melayang
Dibalik data distribusi dan status administratif, tragedi kemanusiaan masih membekas. BNPB mencatat jumlah korban meninggal dunia kini mencapai 1.177 jiwa di tiga provinsi terdampak.
Aceh mencatat korban tertinggi dengan 543 orang meninggal. Sumatra Utara menyusul dengan 370 korban jiwa, sementara Sumatra Barat mencatat 264 orang meninggal dunia.
“Rekapitulasi kemarin pukul 16.00 WIB tercatat 1.167 korban meninggal. Hari ini bertambah 10 orang, sehingga total menjadi 1.177 jiwa,” ujar Abdul.
Status tanggap darurat boleh berakhir di Sumatra Utara. Namun angka-angka itu menegaskan satu hal, bencana belum benar-benar selesai. Yang berakhir mungkin fase administratifnya, tapi pemulihan, dan luka sosial yang ditinggalkannya,vmasih panjang untuk disembuhkan.(Misn’t)






Discussion about this post