INformasinasional.com, Langkat — Diujung jalan tanah yang sunyi, diantara rumah-rumah renta yang lama menunggu sentuhan, langkah Bupati Langkat H Syah Afandin SH tiba tanpa gemuruh. Namun dari sanalah, harapan pelan-pelan tumbuh.
Kamis (9/4/2026), ia menyambangi Dusun 10 Paluh Baru, Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, wilayah yang kerap luput dari sorot, tetapi menyimpan wajah nyata ketimpangan. Disana, program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bukan sekadar proyek pembangunan, melainkan upaya memulihkan martabat hidup warga.
Rumah Suari Suwanto menjadi salah satu titik yang disinggahi. Dinding yang sebelumnya lapuk, atap yang bocor, kini telah diperbaiki. Bagi Suari, bantuan itu bukan hanya soal bangunan, tapi tentang rasa diperhatikan.
“Ini sangat membantu kami,” kata Suari Suwanto, dengan mata yang tak sepenuhnya mampu menyembunyikan haru.
Ditengah suasana itu, Syah Afandin tidak sekadar datang sebagai kepala daerah, tetapi sebagai pendengar. Ia melihat langsung kondisi warga, bukan dari laporan, melainkan dari tanah yang dipijaknya sendiri.
Program RTLH memang menjadi salah satu prioritas Pemerintah Kabupaten Langkat. Namun dibalik angka-angka capaian, tersimpan fakta yang lebih getir, masih ribuan rumah di Langkat berdiri dalam kondisi yang jauh dari layak.
Melalui kolaborasi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim), lebih dari 140 unit rumah telah diperbaiki. Sumbernya pun bukan dari kemewahan anggaran besar, melainkan dari zakat dan infaq Aparatur Sipil Negara, suatu gotong royong sunyi yang perlahan menjahit ketimpangan.
Namun Syah Afandin tak menutup mata. Ia tahu pekerjaan ini masih panjang.
“Masih ada ribuan rumah yang belum layak huni. Ini pekerjaan besar, dan kami kejar bersama, sedikit demi sedikit,” kata Syah Afandin, dengan nada yang tak meledak-ledak, tetapi sarat kesadaran.
Dihadapan warga Pasar Rawa, ia juga memilih merendah, meminta doa, bukan tepuk tangan.
“Mohon doa dan dukungan, semoga saya bisa amanah dan benar-benar membawa kesejahteraan,” kata Syah Afandin lagi.

Kunjungan itu ditutup dengan penyerahan bantuan sembako, Al-Qur’an, dan uang tunai kepada puluhan warga. Bantuan yang mungkin sederhana bagi sebagian orang, tetapi bagi mereka di Paluh Baru, itu adalah tanda bahwa negara belum sepenuhnya absen.
Di Langkat, pembangunan tak selalu hadir dalam bentuk proyek megah. Syah Afandin kadang datang pelan, lewat rumah-rumah kecil yang diperbaiki. Dan dari sana, satu per satu, harapan mulai berdiri kembali.(Misno)






Discussion about this post