INformasinasional.com, JAKARTA — Gelombang demonstrasi Hari Buruh Internasional (May Day) dijantung ibu kota berubah menjadi panggung perlawanan yang menyala. Ribuan buruh dan mahasiswa memadati kawasan depan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Jumat (1/5/2026) sore, menghadirkan lanskap aksi yang panas secara harfiah dan politis.
Sekitar pukul 17.30 WIB, massa masih bertahan, mengunci akses utama di Jalan Gatot Subroto. Dari balik pagar parlemen, suara orasi menggema tanpa jeda. Didepan barisan, perwakilan mahasiswa silih berganti menyuarakan tuntutan, reformasi menyeluruh regulasi ketenagakerjaan yang dinilai semakin menjauh dari kepentingan buruh.
Situasi memuncak ketika sejumlah demonstran menyalakan flare merah dan membakar ban dititik aksi. Asap pekat membumbung, sementara cahaya flare memandikan area gerbang DPR dalam semburat merah menyala, seolah menegaskan bara kekecewaan yang tak lagi bisa disembunyikan.
“Perbaiki aturan ketenagakerjaan, hentikan kebijakan yang menekan buruh!” teriak orator dari atas mobil komando, disambut gemuruh massa.
Meski sebagian peserta mulai membubarkan diri menjelang petang, gelombang massa yang bertahan menunjukkan aksi belum benar-benar surut. Mereka memilih tetap berada dilokasi, menunggu respons konkret dari penguasa.
Aparat kepolisian tampak siaga penuh, membentuk lapisan pengamanan disekitar kompleks parlemen. Hingga berita ini diturunkan, situasi masih terkendali meski tensi dilapangan tinggi.
Dampak aksi meluas kelalu lintas. Ruas Jalan Gatot Subroto dari arah Semanggi menuju Slipi lumpuh total, ditutup untuk mengantisipasi eskalasi. Sementara itu, arus di Tol Dalam Kota relatif ramai lancar, meski sempat mengalami kepadatan akibat limpahan kendaraan dari jalur arteri.
May Day tahun ini kembali menegaskan satu hal, suara buruh belum padam, dan di Senayan, ia menyala terang dalam kobaran flare dan bara perlawanan.

Di Medan
Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Kota Medan berubah menjadi panggung perlawanan terbuka. Gelombang aksi mahasiswa dan buruh tak hanya menyuarakan tuntutan, tetapi juga melumpuhkan arus lalu lintas dan membakar ban disejumlah titik strategis, Jumat (1/5/2026).
Didepan Gedung DPRD Sumatera Utara, massa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sumut menggelar demonstrasi dengan intensitas tinggi. Asap hitam dari ban yang dibakar membumbung diudara, menjadi simbol kemarahan sekaligus sinyal keras kepada pemerintah. Orasi bergantian menggema, menuding negara abai terhadap nasib kelas pekerja.
Aksi tersebut berdampak langsung pada penutupan Jalan Imam Bonjol, salah satu urat nadi lalu lintas kota. Aparat terpaksa melakukan rekayasa arus kendaraan. Pengendara yang hendak melintas menuju kawasan Hotel Danau Toba dialihkan melalui Jalan Diponegoro, tepat disisi Lapangan Benteng. Kemacetan pun tak terhindarkan.
Sekretaris GMNI Sumut, Hamdan Hasibuan, menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan akumulasi kekecewaan yang telah lama terpendam. “Kami membawa 12 Simpul Perlawanan. Ini adalah suara kolektif rakyat yang selama ini diabaikan,” katanya ditengah kerumunan massa.
Dua belas tuntutan yang digaungkan GMNI mencerminkan spektrum persoalan struktural ketenagakerjaan dan pendidikan. Mulai dari desakan pembentukan Dewan Kesejahteraan Buruh, pembentukan Satgas PHK, penghapusan sistem outsourcing, hingga dorongan ratifikasi Konvensi ILO 188 tentang pekerjaan disektor perikanan.
Mereka juga menuntut penyesuaian upah minimum berbasis inflasi dan pertumbuhan ekonomi, serta percepatan pengesahan regulasi perlindungan pekerja rumahan.
Isu pendidikan turut disorot tajam. GMNI mendesak evaluasi sistem pendidikan di Sumatera Utara, mencabut Surat Edaran Kementerian Pendidikan Nomor 2 Tahun 2026, serta mempercepat pengesahan RUU Sistem Pendidikan Nasional.
Sementara itu, dititik lain kota, tepatnya dipersimpangan Jalan Kapten Maulana Lubis–Balaikota Medan, aksi serupa berlangsung dengan eskalasi berbeda. Massa dari Aliansi Kemarahan Buruh dan Rakyat (Akbar) Sumut memilih duduk memblokade jalan, menciptakan “parlemen jalanan” ditengah simpang kota.
Orasi-orasi lantang menggugat ketimpangan sosial dan ketidakpastian kerja terus bergulir. Penutupan jalan dikawasan tersebut memperparah kepadatan lalu lintas dipusat kota. Namun bagi massa aksi, gangguan itu adalah konsekuensi dari perjuangan yang mereka anggap mendesak dan tak bisa lagi ditunda.
Akbar Sumut juga membawa 12 tuntutan yang senada, menyerukan persatuan lintas sektor. Buruh, mahasiswa, petani, perempuan, hingga kelompok rentan diajak merapatkan barisan. Mereka menilai, tanpa solidaritas luas, perubahan hanya akan menjadi ilusi.
May Day di Medan tahun ini menegaskan satu hal, jalanan kembali menjadi arena artikulasi kekecewaan rakyat. Ditengah asap ban terbakar dan derap suara massa, pesan itu disampaikan tanpa kompromi, bahwa kesejahteraan buruh bukan sekadar janji, melainkan hak yang harus segera ditepati.(Misno)






Discussion about this post