INformasinasional.com, LANGKAT — Ada suasana yang tak biasa di Gedung Dewan Syarikat Melayu Langkat (DSML), Stabat, Rabu (8/4/2026). Bukan sekadar keramaian sebuah acara, melainkan kehangatan yang pelan-pelan meresap, seolah Langkat sedang bercakap dengan dirinya sendiri, tentang siapa ia, dari mana ia berasal, dan kemana ia hendak melangkah.
Diruang itulah, Bupati Langkat H Syah Afandin SH membuka Jambore Budaya DSML 2026. Satu peristiwa yang, pada pandangan pertama, tampak seperti agenda tahunan. Namun dibaliknya, tersimpan kegelisahan halus, bagaimana menjaga warisan agar tak sekadar menjadi kenangan.
Mengusung tema “Generasi Muda Inklusif, Berdaya dan Berbudaya”, jambore ini seperti merentangkan tangan, mengundang generasi muda untuk pulang, bukan kemasa lalu, tetapi keakar yang memberi mereka makna.
Rangkaian kegiatan yang dihadirkan pun tidak sekadar meriah. Workshop ekonomi budaya, festival UMKM, pentas seni lintas etnis, hingga dialog inspiratif, semuanya dirangkai dalam satu benang merah, merawat budaya tanpa memenjarakannya, menghidupkan tradisi tanpa menolak perubahan.
Sekretaris DSML, Ilham Iskandar Zein, menyebut kegiatan ini sebagai ruang perjumpaan antara generasi dan nilai-nilai yang kerap terlewatkan. Suatu ikhtiar agar budaya tidak hanya diwariskan, tetapi juga dipahami dan dicintai kembali.
Sementara itu, Ketua DSML, Drs H Sukhyar Mulyamin MSi, berbicara dengan nada yang teduh tentang keberagaman. Baginya, Langkat bukan sekadar kumpulan etnis, melainkan harmoni yang telah lama terjalin, dan harus terus dijaga dengan kesadaran.
“Lintas etnis, mari kita berdialog. Dari sanalah kekuatan itu tumbuh,” katanya, sederhana, namun terasa dalam.
Namun, pada akhirnya, suara yang paling lama tinggal adalah pesan dari Bupati Syah Afandin. Tidak menggebu, tidak pula retoris. Ia memilih kata-kata yang ringan, tetapi sarat makna, seperti aliran sungai yang tenang, namun tak pernah berhenti bergerak.
Ia mengingatkan bahwa jambore ini tidak boleh berhenti sebagai seremoni yang indah dipermukaan, tetapi hampa dikedalaman. “Saya tidak ingin ini hanya menjadi acara yang selesai saat lampu dipadamkan. Harus ada jejak yang ditinggalkan, ada langkah yang dilanjutkan,” katanya pelan, namun terasa mengikat.
Dalam pesannya kepada generasi muda, ia tidak sekadar meminta mereka menjaga budaya. Ia mengajak mereka untuk memeluknya, memahami denyutnya, lalu membawanya berjalan bersama zaman.
“Jangan malu dengan budaya sendiri. Disitulah kita mengenal diri kita yang sesungguhnya,” kata Syah Afandin.
Kalimat itu sederhana, tetapi ditengah arus globalisasi yang kerap mengikis identitas, ia terdengar seperti pengingat yang jernih, bahwa menjadi modern tidak berarti harus melupakan asal.
Dipenghujung acara, harapan pun disampaikan tanpa gemuruh. Bahwa persaudaraan tetap terjaga, bahwa perbedaan tidak menjadi sekat, dan bahwa Langkat bisa terus melangkah tanpa kehilangan ruhnya.
Jambore Budaya DSML 2026 akhirnya bukan hanya tentang pertunjukan atau perayaan. Tapi merupakan ruang hening ditengah riuh zaman, tempat dimana budaya tidak sekadar ditampilkan, tetapi dirasakan.
Dan dari Stabat, satu pesan mengalir lembut, bahwa masa depan boleh saja berubah, tetapi akar harus tetap dijaga, karena disanalah Langkat menemukan jiwanya.(Misno)






Discussion about this post