INformasinasional.com, LANGKAT —Langkat mewakili Sumut bawa pulang Emas FORNAS NTB. Prestasi itu tak sekadar berkilau dipodium. Ia pulang, mengetuk pintu-pintu kelas, dan menuntut masa depan yang lebih berani. Setelah torehan emas di Festival Olahraga Nasional (FORNAS) NTB 2025, Bupati Langkat H Syah Afandin SH kini mengarahkan sorotan pada satu hal yang lebih mendasar, membangun karakter anak-anak sejak dini melalui taekwondo.
Diruang kerjanya di Stabat, Selasa (7/4/2026), suasana audiensi antara Pemerintah Kabupaten Langkat dan Pengurus Indonesia Taekwondo Fun (ITFun) Sumatera Utara berlangsung hangat, namun sarat gagasan besar. Dibalik senyum dan salam, ada agenda serius, menjadikan olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan benteng moral generasi muda.
Ketua ITFun Sumut, Defriansyah Manik SH, memaparkan capaian yang tak bisa dipandang sebelah mata. Dari enam Induk Organisasi Olahraga (InOrga) yang diberangkatkan ke FORNAS NTB, hanya ITFun Langkat yang pulang membawa emas, dari kategori Poomsae/All Around Breaking Senior di Stadion Turide, Mataram. Suatu capaian yang sederhana diangka, namun besar dalam makna, bukti bahwa potensi itu nyata, tinggal diasah dan diarahkan.
Namun bagi mereka, medali bukan akhir. Itu baru permulaan.
ITFun Sumut kini mengusung program ambisius, memasukkan pelatihan taekwondo kesekolah-sekolah, mulai dari TK hingga SMP diseluruh Langkat. Tujuannya tak setengah-setengah, membentuk disiplin, menanamkan sportivitas, memperkuat fisik, sekaligus memberi anak-anak kemampuan melindungi diri ditengah meningkatnya ancaman kekerasan jalanan dan bullying. Dititik inilah, negara melalui kepala daerah ditantang untuk hadir.
Syah Afandin tak ragu. Ia membaca arah angin dengan jernih. Baginya, taekwondo bukan sekadar olahraga bela diri, tetapi investasi sosial jangka panjang.
“Ini bukan hanya soal fisik. Ini soal membentuk anak-anak kita menjadi pribadi yang disiplin, berani, dan berkarakter. Pemerintah daerah wajib hadir untuk itu,” tegasnya.
Instruksi pun dilontarkan tanpa basa-basi. Dinas Pemuda dan Olahraga serta Dinas Pendidikan diminta segera duduk bersama, merumuskan langkah teknis agar program ini tak berhenti dimeja wacana.
Lebih jauh, Bupati menegaskan bahwa keberhasilan program ini tak bisa bertumpu pada satu pihak. Sekolah, orang tua, pelatih, hingga komunitas harus bergerak dalam satu tarikan napas. Tanpa itu, mimpi hanya akan menjadi slogan.
Ditengah realitas sosial yang kian kompleks, dari kenakalan remaja hingga krisis karakter, gagasan ini terasa relevan, bahkan mendesak. Taekwondo, dalam konteks ini, menjelma menjadi lebih dari sekadar tendangan dan jurus. Ia adalah bahasa disiplin, cara sunyi membangun mental, dan mungkin, jalan kecil untuk menyelamatkan masa depan.
Langkat tidak membiarkan potensi itu menguap, tapi menjadikannya gerakan nyata yang menyentuh ruang-ruang kelas. Dan dari Stabat, langkah itu tampaknya sudah dimulai pelan, tapi pasti. Sebab dari satu medali emas, bisa lahir seribu mimpi yang tak lagi mudah dipatahkan.(Misno)






Discussion about this post