INformasinasional.com, MEDAN — Laut disekitar Belawan berubah jadi kuburan api. KM Sumber Indah III, kapal penangkap teri berbobot 140 GT, hangus dilalap kobaran setelah ledakan mengguncang ruang mesin, Selasa (7/4/2026) dini hari. Tiga nelayan tewas. Lima lainnya lenyap, ditelan gelapnya laut yang belum mau mengembalikan mereka.
Peristiwa itu terjadi nyaris tanpa aba-aba. Kapal yang berangkat dari dermaga Pekong, Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPSB), Senin (6/4/2026) sore, tengah menjalankan rutinitas, menebar pukat, menunggu hasil, lalu beristirahat. Hingga dentuman keras memecah sunyi malam.
Ledakan dari kamar mesin menjadi titik awal petaka. Dalam hitungan detik, api menjalar liar, melahap badan kapal. Tak ada ruang untuk berpikir. Yang tersisa hanya naluri bertahan hidup.
“Waktu itu kami semua lagi istirahat. Tiba-tiba terdengar ledakan keras dari bawah. Api langsung membesar, kami panik dan berusaha menyelamatkan diri,” kata seorang nelayan yang selamat, suaranya masih bergetar.

Ditengah kepanikan, pertolongan datang dari laut itu sendiri. Kapal-kapal nelayan disekitar lokasi bergegas mendekat, menantang api dan gelombang. Mereka menarik satu per satu korban yang masih bisa diselamatkan.
Sebanyak 13 orang berhasil lolos dari maut. Tiga lainnya ditemukan tak bernyawa, tubuh mereka menjadi saksi bisu ganasnya api ditengah laut. Sementara lima nelayan masih hilang, belum ditemukan hingga berita ini diturunkan.
“Posisi kami tidak jauh dari lokasi. Begitu melihat api, kami langsung mendekat dan mengevakuasi korban yang masih bisa diselamatkan,” kata nelayan dari KM Mandiri yang ikut dalam proses penyelamatan.
Setelah evakuasi, para korban dibawa ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Belawan dan tiba sekitar pukul 08.00 WIB, Selasa. Disana, duka menunggu. Keluarga yang berharap kabar baik justru dihadapkan pada kenyataan pahit.
Hingga kini, penyebab pasti ledakan belum dijelaskan otoritas terkait. Dugaan sementara mengarah pada gangguan mesin, bom waktu yang meledak saat semua orang lengah.
Pencarian lima nelayan yang hilang masih berlangsung. Laut Belawan belum selesai bercerita. Dan bagi keluarga korban, waktu seakan berhenti diantara harap yang menipis dan ketidakpastian yang menggigit.*
Editor: Misno






Discussion about this post