INformasinasional.com, YOGYAKARTA – Gelombang perlawanan rakyat kembali mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta. Ratusan mahasiswa, aktivis, buruh, petani, hingga elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil turun kejalan dan menggelar aksi besar-besaran di Simpang Tiga Gejayan, Caturtunggal, Depok, Sleman, Sabtu (14/6/2026) sore.
Ditengah sorotan terhadap kondisi ekonomi nasional yang dinilai semakin menekan rakyat kecil, aksi tersebut menjadi panggung kemarahan sekaligus seruan keras kepada pemerintah untuk segera mengevaluasi berbagai kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat.
Massa mulai memadati kawasan Gejayan sejak sore hari, tepat setelah hujan yang mengguyur Yogyakarta mereda. Dengan membawa puluhan spanduk, poster, dan atribut perlawanan, mereka menyampaikan kritik tajam terhadap arah kebijakan pemerintah.
Tulisan-tulisan bernada keras menghiasi lokasi aksi. Salah satunya berbunyi, “Jika Rupiah Melemah, Kita Kuatkan Perlawanan kepada Pemerintah”, sementara poster lainnya menegaskan, “Para Pekerja dan Petani di Negeri Ini Lebih Pintar daripada Pemerintah.”
Suasana semakin bergemuruh ketika para orator dari berbagai elemen masyarakat silih berganti naik kemobil komando. Kritik terhadap kondisi ekonomi, melemahnya daya beli masyarakat, hingga dugaan penyempitan ruang demokrasi menjadi tema utama yang menggema sepanjang aksi.
“Selamat datang dinegeri ngompol, pejabat kayak maling, rupiah makin ambrol,” teriak salah seorang orator yang langsung disambut sorak dan tepuk tangan massa.
Aksi tersebut juga mendapat dukungan dari kalangan akademisi. Guru Besar Ilmu Media dan Jurnalisme Program Studi Ilmu Komunikasi UII, Masduki, turut hadir dan menyampaikan seruan agar pemerintah membuka ruang evaluasi terhadap program-program yang menuai kontroversi.
“Kami meminta Presiden dan Wakil Presiden meninjau ulang seluruh program yang saat ini menjadi sorotan publik dan dipermasalahkan masyarakat,” katanya dihadapan peserta aksi.
10 Tuntutan Menggema dari Gejayan
Dalam aksi yang berlangsung berjam-jam itu, massa menyampaikan sepuluh tuntutan utama yang mereka nilai sebagai representasi keresahan rakyat.
Selain mendesak evaluasi terhadap sejumlah program pemerintah seperti Program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih, massa juga menuntut pencabutan berbagai regulasi yang dianggap berpotensi mengancam demokrasi dan supremasi sipil, termasuk revisi UU TNI, UU Polri, UU Kejaksaan, serta UU Peradilan Militer.
Mereka juga mendesak perlindungan kebebasan berekspresi, penghentian kriminalisasi terhadap warga yang menyampaikan kritik, pembebasan tahanan politik, penghapusan impunitas aparat, serta penegakan hukum yang adil bagi seluruh warga negara.
Disektor ekonomi dan kesejahteraan sosial, massa menuntut pendidikan gratis, layanan kesehatan yang mudah diakses, perlindungan hak pekerja, perbaikan regulasi transportasi online, hingga jaminan hak atas tanah dan ruang hidup yang layak bagi masyarakat.
Gejayan Memanas, Ban Dibakar
Memasuki petang, situasi yang semula berlangsung tertib mulai memanas. Setelah sebagian peserta aksi menyerukan pembubaran, mayoritas massa justru memilih bertahan di lokasi.
Ketegangan meningkat ketika sejumlah peserta membakar ban dan pembatas jalan disisi utara Simpang Tiga Gejayan. Kobaran api sempat menarik perhatian pengguna jalan dan aparat yang berjaga disekitar lokasi.
Beberapa saat kemudian terdengar dua kali suara ledakan yang diduga berasal dari kaleng cat semprot yang ikut terbakar ditengah kobaran api.
Meski sempat diwarnai aksi pembakaran, situasi secara umum tetap terkendali. Aparat keamanan melakukan pengawasan tanpa benturan berarti dengan peserta aksi.
Menjelang malam, akses lalu lintas yang sebelumnya ditutup mulai dibuka kembali. Namun semangat perlawanan massa belum surut. Sejumlah peserta yang masih bertahan meminta para pengendara yang melintas membunyikan klakson sebagai bentuk dukungan terhadap aspirasi mereka.
Suara klakson pun bersahut-sahutan memecah malam Gejayan, menjadi simbol protes yang menggema dari jalanan Yogyakarta kepada pusat kekuasaan.
Aksi “Rakyat Memanggil” kali ini kembali menegaskan bahwa Gejayan masih menjadi salah satu episentrum gerakan sosial dan demokrasi di Indonesia. Dari jalanan yang pernah menjadi saksi berbagai gelombang perlawanan rakyat, suara kritik kembali bergema, mengingatkan bahwa aspirasi publik tak pernah benar-benar padam.(misn’t)
Editor: Misno






Discussion about this post