INformasinasional.com-Pasaman Barat–Lonjakan harga plastik hingga 60 persen dalam sepekan terakhir menjelang dan setelah Lebaran 2026 mulai menekan pelaku usaha di daerah. Kenaikan tajam ini tidak hanya membebani pedagang, tetapi juga mengganggu rantai distribusi serta menurunkan omzet secara signifikan.
Di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, para pedagang mengeluhkan kenaikan harga yang terjadi secara mendadak disertai kelangkaan barang di pasaran.
Nanda Putra (31), salah seorang pedagang, mengatakan harga plastik sudah mulai naik sejak sebelum Lebaran, namun lonjakan drastis baru terjadi dalam beberapa hari terakhir.
“Harganya naik hampir 60 persen. Ini sangat memberatkan karena plastik adalah kebutuhan utama untuk membungkus barang dagangan,” kata Nanda, Rabu (8/4/2026).
Ia mengungkapkan, pedagang kini tidak hanya menghadapi harga tinggi, tetapi juga kesulitan mendapatkan stok. Barang yang datang kerap tidak sesuai pesanan, baik dari sisi jenis maupun jumlah.
Sejumlah produk mengalami kenaikan signifikan. Plastik asoy merek 888 naik dari Rp550.000 menjadi Rp650.000 per bal, sementara plastik asoy Idola melonjak dari Rp960.000 menjadi Rp1,29 juta per bal. Plastik HD merek Sparta juga naik dari Rp900.000 menjadi Rp1,2 juta per bal.
Kenaikan turut terjadi pada produk turunan lainnya seperti cup plastik dan styrofoam, yang umum digunakan pelaku usaha makanan dan minuman.
Tekanan biaya ini berdampak langsung pada kinerja usaha. Nanda menyebut omzet penjualannya turun hingga hampir 50 persen karena daya beli masyarakat melemah.
“Pembeli jadi lebih sedikit dan cenderung mengurangi belanja,” ujarnya.
Gangguan juga terjadi di sisi distribusi. Boy Martin Putra (52), pemasok plastik ke wilayah Sumatera Barat hingga Riau, mengatakan pasokan dari produsen tidak lagi stabil.
“Pesan Rp50 juta, yang datang hanya sekitar Rp5 juta dan tidak lengkap. Ini mengganggu distribusi ke toko-toko,” katanya.
Menurutnya, keterbatasan stok memaksa distributor menunda pengiriman, yang berpotensi menurunkan kepercayaan pelanggan.
Dampak paling terasa terjadi pada usaha mikro, khususnya sektor makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan plastik.
Puji Helya Putri (23), pedagang minuman, mengatakan kenaikan harga membuat margin keuntungan semakin tipis.
“Semua pakai plastik, jadi kalau harga naik, modal langsung naik. Sekarang untungnya sangat tipis,” ujarnya.
Untuk bertahan, pelaku usaha terpaksa menaikkan harga jual secara terbatas, meski berisiko menekan permintaan.
Kenaikan harga plastik yang terjadi dalam waktu singkat ini menjadi sorotan karena berpotensi memicu efek berantai terhadap harga barang dan jasa, terutama di sektor UMKM.
Jika berlanjut, kondisi ini dikhawatirkan akan mendorong tekanan inflasi di tingkat daerah serta memperlambat pemulihan ekonomi pasca-Lebaran.
Reporter: SYAFRIZAL






Discussion about this post