INformasinasional.com, LANGKAT – Derita bencana seolah enggan menjauh dari warga Langkat. Hujan deras yang mengguyur sejak Kamis malam tak hanya memutus akses jalan, tetapi juga kembali menenggelamkan rumah-rumah warga. Air datang tanpa kompromi, merangsek perlahan, lalu menguasai ruang hidup warga.
Hujan sempat memberi harapan palsu. Siang hari Jumat, 2 Desember 2026, intensitasnya menurun. Namun selepas Magrib, langit kembali murka. Sejak pukul 20.00 WIB hingga dini hari, hujan turun tanpa jeda. Hingga berita ini diturunkan, tak ada tanda-tanda air akan surut.
Di Desa Buluh Telang, Kecamatan Padang Tualang, dan Desa Alur Gadung, Kecamatan Sawit Seberang, air tak hanya menggenangi jalan penghubung antardusun. Rumah-rumah warga ikut terendam. Barang-barang mulai dipindahkan. Kekhawatiran lama kembali menghantui.
Sepanjang jalan utama mulai dari Jati Sari menuju Batang Serangan telah digenangi banjir setinggi 80 cm.
Genangan banjir juga merambah kediaman Kepala Desa Buluh Telang, M. Yunus, di Dusun Pancuran. Ia tak bicara dari balik meja, melainkan dari rumahnya yang ikut dikepung air. “Siang tadi air sempat turun sedikit. Tapi habis Magrib hujan turun lagi, air naik lagi. Warga sudah mulai berkemas, siap mengungsi,” ujar Yunus dengan nada cemas.
Trauma banjir sebelumnya masih membekas. Saat itu, kata Yunus, air menghabiskan isi rumah warga dalam sekejap. Tak ada yang sempat diselamatkan. “Kami khawatir kejadian itu terulang. Rumah saya pun tak luput,” ujarnya.
Ia mengaku telah menginstruksikan seluruh kepala dusun untuk siaga penuh. Evakuasi sewaktu-waktu bisa dilakukan jika debit air terus naik. “Semua sudah siaga satu. Jangan sampai ada korban,” katanya dini hari Sabtu, 3 Desember 2026.
Kecemasan serupa datang dari Desa Alur Gadung. Kepala Dusun IV Sei Mati, Suyono, menyebut air Sungai Batang Serangan mulai meluap, seperti kejadian banjir besar sebelumnya. “Informasi dari keluarga di Batang Serangan, air sungai sudah melimpah. Dusun kami berbatas langsung dengan Buluh Telang. Kalau di sana banjir, kami pasti ikut terendam,” kata Suyono.
Menurutnya, hujan deras hanya satu dari sekian sebab. Kondisi tanggul yang tergerus abrasi serta pintu klep yang tak berfungsi sejak puluhan tahun lalu memperparah keadaan. Infrastruktur pengendali banjir seolah dibiarkan renta, menunggu runtuh bersama kesabaran warga.
Ia mengaku telah melaporkan situasi ini kepada kepala desa dan camat Sawit Seberang. Warga diimbau waspada. Air terus naik, rumah-rumah mulai digenangi, dan akses warga terputus.
Hingga pukul 01.20 WIB dini hari, hujan masih turun tanpa jeda. Langit Langkat tak menunjukkan belas kasihan. Warga hanya bisa berharap, prahara banjir besar yang melanda beberapa pekan lalu tak kembali mengulang luka yang sama.
(Zaid Lubis)






Discussion about this post