INformasinasional.com, Baghdad – Baghdad mendadak muram. Pemerintah Irak resmi menetapkan tiga hari berkabung nasional atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Keputusan itu bukan sekadar seremoni duka, tetapi sinyal politik yang menggema keseluruh kawasan Timur Tengah.
Pengumuman disampaikan Juru Bicara Pemerintah Irak, Bassem Al-Awadi, dalam pernyataan yang dimuat Kantor Berita Irak (INA), Ahad (1/3/2026). Nada pernyataan itu tegas, emosional, dan sarat makna geopolitik.
“Dengan kesedihan dan dukacita yang mendalam, kami menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Iran yang terhormat dan seluruh umat Islam atas kemartiran ulama dan mujahid, Pemimpin Tertinggi, Yang Mulia Ayatollah Sayyid Ali al-Husseini al-Khamenei, yang kami anggap sebagai salah satu tokoh utama keluarga Nabi,” kata Al-Awadi.
Baghdad tak hanya berduka. Irak juga secara terbuka menyebut serangan terhadap Iran sebagai “agresi terang-terangan” dan “tindakan tercela” yang melanggar hukum internasional. Bahasa diplomasi yang biasanya dingin, kali ini berubah panas.
Tewas dalam Serangan Gabungan
Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel kewilayah Iran pada Sabtu (28/2). Serangan tersebut langsung mengguncang peta kekuatan regional.
Teheran bergerak cepat. Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung selama 40 hari dan tujuh hari libur nasional. Duka berubah menjadi mobilisasi nasional. Jalan-jalan disejumlah kota besar dipenuhi lautan hitam, simbol berkabung sekaligus kemarahan.
Namun respons Iran tak berhenti pada simbolisme.
27 Pangkalan AS Jadi Target
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan ke 27 pangkalan militer AS dikawasan Arab. Salah satu pangkalan yang menjadi sasaran berada diwilayah Irak, sebuah fakta yang menempatkan Baghdad dalam posisi paling sulit, berduka untuk Teheran, namun menjadi arena konfrontasi Washington dan Teheran.
Irak kini berdiri digaris tipis. Disatu sisi, ia memiliki kedekatan historis dan politik dengan Iran. Disisi lain, pasukan Amerika masih memiliki jejak dan kepentingan strategis diwilayahnya. Keputusan berkabung nasional bisa dibaca sebagai pesan tegas, Irak tidak netral dalam tragedi ini.
Ketegangan pun merambat. Kawasan Timur Tengah kembali berada diambang eskalasi terbuka. Pembunuhan seorang pemimpin tertinggi bukan sekadar peristiwa militer, ia adalah detonator politik.
Dunia menahan napas. Irak berkabung. Iran membalas. Dan Timur Tengah kembali memanas, dengan bara yang bisa menyala lebih besar dari sebelumnya.*






Discussion about this post