INformasinasional.com, Jakarta – Gelombang protes mahasiswa mengguncang kawasan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026). Dengan suara lantang dari atas mobil komando, massa menuding organisasi internasional Board of Peace bukan penjaga perdamaian, melainkan aktor yang justru memantik konflik di Timur Tengah.
Aksi yang digelar koalisi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil itu berlangsung panas. Spanduk, poster, hingga pengeras suara memenuhi jalanan depan parlemen. Pesan mereka jelas, Indonesia diminta segera keluar dari Board of Peace.
“Hari ini kami menuntut presiden keluar dari Board of Peace. Katanya badan perdamaian, tapi justru menjadi analisator dan pemantik perang di Timur Tengah,” teriak seorang orator dari mobil komando yang disambut sorak massa.
Bagi para demonstran, keterlibatan Indonesia dalam organisasi tersebut dinilai tidak lagi sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini dijunjung. Mereka menilai lembaga itu telah kehilangan legitimasi moral sebagai penengah konflik global.
Namun tuntutan mahasiswa tak berhenti di situ. Ditengah panasnya isu geopolitik dunia, massa juga mendesak pemerintah membatalkan perjanjian dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Menurut mereka, kerja sama ekonomi itu berpotensi menyeret Indonesia lebih jauh kepusaran kepentingan politik global.
“Situasi dunia sedang tidak baik-baik saja. Kami menuntut DPR dan pemerintah membatalkan perjanjian dagang dengan Amerika,” kata orator lainnya.
Isu kemanusiaan di Gaza juga ikut menyeruak dalam orasi. Para demonstran menegaskan penolakan keras terhadap wacana pengiriman pasukan TNI kewilayah konflik tersebut. Mereka meminta pemerintah fokus pada diplomasi kemanusiaan, bukan keterlibatan militer.
Disisi lain, aparat keamanan bersiaga penuh. Sebanyak 210 personel kepolisian dikerahkan untuk menjaga jalannya aksi agar tetap kondusif.
“Rekayasa lalu lintas bersifat fleksibel menyesuaikan situasi di lapangan. Untuk pengamanan di DPR kami turunkan 210 personel,” kata petugas di lokasi.
Hingga siang hari, aksi masih berlangsung dengan orasi bergantian dari para mahasiswa. Suara pengeras massa terus menggema di depan gedung parlemen, menekan pemerintah untuk menentukan sikap ditengah pusaran konflik global yang kian memanas.(misn’t)






Discussion about this post