INformasinasional.com, Medan — Diballroom Hotel Danau Toba, Medan, Sabtu (14/1/2026), denting gong menggema. Bunyi itu bukan sekadar penanda seremoni. Ia seperti alarm halus bagi pomparan Borsak Jungjungan Silaban di eluruh penjuru dunia, saatnya merapikan barisan, menjahit ulang persatuan yang mungkin sempat renggang oleh waktu dan ego.
Pomparan Borsak Jungjungan Silaban Indonesia-Sedunia (PBJSIP) menggelar Musyawarah Luar Biasa (Mubes) I. Empat materi besar dibentangkan dimeja rembuk, anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART), sejarah dan tarombo, konsep pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta penguatan persatuan, hasadaon yang kerap disebut, namun tak selalu mudah diwujudkan.
Ketua Umum PBJSIP, Prof Dr Pantas Silaban MBA, menyebut Mubes ini sebagai momentum evaluasi dan introspeksi. “Ini saatnya kita merumuskan langkah demi kemajuan dan persatuan,” katanya.
Namun dibalik kalimat formal itu, terselip kegelisahan yang tak diucapkan gamblang: komunitas besar tanpa tata kelola yang rapi hanya akan menjadi nama panjang tanpa daya.
Pantas ingin Mubes ini melahirkan program kerja visioner, bukan sekadar daftar kegiatan tahunan. Ia berharap kepengurusan yang lahir dari forum ini amanah, membawa semangat baru, dan menjadikan pomparan Silaban semakin solid serta berdaya guna.
Ia menekankan sepuluh syarat keberhasilan komunitas marga, persatuan diatas kepentingan pribadi, kepemimpinan amanah dan visioner, menghidupkan nilai Dalihan Na Tolu, melibatkan generasi muda, transparansi tata kelola, program yang memberi manfaat nyata, komunikasi modern, menjaga identitas budaya, solidaritas dalam suka dan duka, serta visi jangka panjang. Daftar itu terdengar ideal. Tantangannya, tentu saja, bukan diatas kertas.
Ketua Panitia Mubes I, Drs Tonny Sihombing Silaban MIP, dalam laporannya menyebut pelaksanaan Mubes berdasarkan surat keputusan Ketua PBJSIP yang mengangkat panitia dan koordinator pelaksana. Ia memastikan forum memenuhi syarat dan kuorum, dihadiri fungsionaris KSB PBJSIP, pengurus harian, serta 23 pengurus wilayah.
Empat materi utama dibedah oleh tim berbeda.
AD/ART diketuai Prof Dr Ramlan Silaban.
Sejarah dan tarombo dikoordinatori Drs Daulat Sihombing Silaban. SDM dan pengembangan kapasitas komunitas dibahas dalam tim tersendiri. Materi persatuan (hasadaon) dikoordinatori Dr Patri Silaban.
Steering committee Bangun Silaban SE, memberi apresiasi atas partisipasi seluruh undangan. Namun apresiasi saja tidak cukup. Sejarah banyak organisasi marga membuktikan, konflik bukan lahir dari kekurangan orang pintar, melainkan dari kekurangan kesediaan untuk saling mendengar.
Sebelum forum dimulai, ibadah bersama dipimpin Pdt COR Silaban MTh, dengan tema “Supaya mereka semua menjadi satu”, mengutip Yohanes 17:21. Tema yang sederhana, tapi berat dijalankan.
Pemukulan gong oleh Ketua Umum didampingi Ketua Panitia menjadi simbol pembukaan Mubes. Simbol yang sarat makna: suara keras yang diharapkan tak berhenti sebagai gema seremoni, melainkan menjelma menjadi keputusan nyata.
Mubes I ini bukan sekadar pertemuan administratif. Ia adalah ujian: apakah pomparan Silaban benar-benar siap menempatkan hasadaon diatas kepentingan pribadi? Atau persatuan hanya akan tinggal slogan yang rutin diulang setiap kali forum digelar?
Waktu yang akan menjawab. Gong sudah dipukul. Kini, keputusan ada ditangan para pewaris nama besar itu.
Reporter: Karmawan Silaban






Discussion about this post