INformasinasional.com, LANGKAT — Ancaman predator liar kian nyata dikawasan Paluh Cingam, Dusun Paluh Baru, Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.
Puluhan telur buaya yang sebelumnya ditemukan diareal perkebunan kelapa sawit milik Herman alias Aliang Antara dilaporkan telah menetas. Sedikitnya 30 butir telur buaya disebut menetas pada Selasa (25/8/2026).
Yang membuat warga semakin resah, anak-anak buaya yang baru menetas itu sempat ditemukan dan bahkan dipegang oleh sejumlah warga. Namun, perilaku agresif bayi predator tersebut membuat warga menyadari bahwa ancaman dikawasan itu bukan perkara sepele.
Ucok, salah seorang warga Dusun Paluh Baru, mengatakan dirinya bersama dua warga lainnya menemukan telur yang telah menetas tersebut.
“Kemarin kalau tak salah hari Selasa kami menemukan telur buaya yang sudah menetas. Kami pegang, begitu agresifnya anak buaya itu, mulutnya menganga. Kami ada tiga orang waktu itu, tapi anak buaya itu kami biarkan,” kata Ucok kepada wartawan, Jumat (28/8/2026).

Temuan itu sontak menambah kekhawatiran warga. Sebab, keberadaan puluhan anak buaya tersebut mengindikasikan bahwa kawasan perkebunan itu diduga telah menjadi lokasi berkembang biaknya buaya muara.
Sebelumnya, warga telah beberapa kali dikejutkan dengan kemunculan seekor buaya muara berukuran besar yang diperkirakan mencapai empat meter.
Reptil predator itu dilaporkan kerap terlihat disekitar aliran Sungai Gebang dan diduga berpindah dari kawasan sungai menuju areal perkebunan kelapa sawit.
Kekhawatiran warga semakin beralasan karena lokasi tersebut bukan kawasan yang sepi. Jalur tanggul yang menjadi pembatas aliran sungai dengan areal perkebunan setiap hari dilalui warga menggunakan sepeda dayung maupun sepeda motor.
Disekitar lokasi itu pula terdapat aktivitas pekerja kebun, nelayan, pencari ikan, hingga warga yang kerap memancing dibibir Sungai Gebang.
Artinya, keberadaan buaya bukan sekadar persoalan satwa liar yang muncul sesekali. Predator tersebut berada ditengah ruang aktivitas masyarakat.
Kepanikan warga sebelumnya mencapai puncaknya pada Selasa (4/8/2026).
Saat itu, Miswandi (52), warga Dusun Paluh Baru yang bekerja sebagai pekerja harian lepas, tengah membersihkan areal perkebunan kelapa sawit bersama sejumlah rekannya.
Tanpa diduga, Miswandi melihat seekor buaya berukuran besar sedang berjemur dibalik semak belukar. Jaraknya hanya beberapa meter dari lokasi ia bekerja.
Terkejut melihat predator raksasa tersebut, Miswandi spontan berteriak:
“Buaya… ada buaya!”
Teriakan itu membuat rekan-rekannya berdatangan. Semula mereka mengira Miswandi hanya bercanda. Namun dugaan itu seketika sirna setelah mereka melihat sendiri buaya berukuran besar tersebut.
Sejumlah pekerja bahkan sempat mengabadikan kemunculan buaya itu menggunakan kamera telepon genggam. Rekamannya kemudian beredar dimedia sosial dan memicu perhatian masyarakat.
Warga Cemas, Bayi Buaya Terus Bertambah
Keresahan kini semakin meningkat setelah puluhan telur ditemukan telah menetas. Warga khawatir apabila anak-anak buaya tersebut tumbuh besar dan kemudian menyebar kealiran Sungai Gebang maupun kawasan perkebunan yang menjadi ruang aktivitas masyarakat.
Apalagi, menurut keterangan warga, buaya induk tersebut dalam beberapa bulan terakhir beberapa kali terlihat berpindah dari areal perkebunan menuju Sungai Gebang dengan melintasi tanggul pembatas air pasang.
Kondisi itu membuat warga mempertanyakan langkah penanganan dari pihak berwenang.
Warga berharap Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) segera turun ke lokasi untuk memastikan keberadaan populasi buaya, mengidentifikasi sarang serta mengambil langkah evakuasi atau penanganan sesuai ketentuan konservasi(Misn’t)
Editor: Ardiansyah






Discussion about this post