INformasinasional.com, LANGKAT —
Tak ada undangan. Tak ada agenda. Hanya bunyi klakson yang memecah sunyi siang di Yayasan Al Faridz, Padang Tualang. Jumat, 19 Desember 2025, sekitar pukul 13.15 WIB, Bunda PAUD Kabupaten Langkat, Endang Kurniasih Syahafandin, SH, tiba-tiba sudah berdiri dihalaman sekolah yang masih basah sisa banjir.
Kedatangan spontan itu membuat guru-guru terdiam. Haru pun pecah.
“Kami masih bersih-bersih lumpur sisa banjir. Tahu-tahu ibu sudah sampai,” kata Dewi, salah satu guru, dengan mata berkaca-kaca. “Sekolah kami terpencil. Tapi ternyata tidak luput dari perhatian.”
Pascabencana, guru-guru Yayasan Al Faridz berjibaku memulihkan ruang kelas sekaligus mental anak-anak yang masih dihantui trauma. Ditengah keterbatasan itulah kehadiran Bunda PAUD Langkat menjadi kejutan yang mengguncang perasaan.
Endang datang tanpa seremoni, didampingi Camat Padang Tualang, Wanda. Ia menyebut kunjungan mendadak itu sebagai kebiasaan.
“Urusan pendidikan dan bencana tak perlu diberitahu. Saya terbiasa turun langsung dari pelosok kepelosok,” ujarnya.
Ia menegaskan, tugas guru pascabencana bukan sekadar mengajar, tetapi menyelamatkan masa depan anak-anak dari luka psikis yang berkepanjangan.
“Trauma harus dikikis. Jangan biarkan bencana merampas harapan anak-anak,” katanya.
Sebelum meninggalkan lokasi, Endang berpesan agar para guru tetap menjadi cahaya ditengah gelap pascabencana.
“Kita tidak sendiri. Bersama, pendidikan Langkat akan tetap kuat.”
Kunjungan singkat itu berakhir tanpa panggung. Namun bagi para guru disekolah kecil itu, kehadiran tersebut menjadi penanda: mereka tidak dilupakan.
(Z Lubis)






Discussion about this post