INformasinasional.com, Pasaman Barat–Kesabaran mahasiswa di Pasaman Barat akhirnya mencapai batas. Setelah tiga kali menggelar aksi tanpa pernah ditemui pimpinan daerah, Koalisi Pemuda Pasaman Barat menggugat resmi menyatakan mosi tidak percaya terhadap Bupati dan Wakil Bupati.
Aksi yang digelar didepan Kantor Bupati, Kamis (2/4/2026), menjadi puncak kekecewaan mahasiswa atas sikap pemerintah yang dinilai abai terhadap aspirasi rakyat.
Koalisi ini terdiri dari berbagai organisasi, diantaranya BEM UBK, BEM ITS Khatulistiwa, BEM IAI YATIP Chadijah Ismail Pasaman Barat, SEMMI Cabang Pasaman Barat, AMPB Pasaman Barat, serta unsur pemuda lainnya.
Koordinator umum aksi, Kaharudin Batu Bara menyebut ketidakhadiran kepala daerah dalam setiap aksi sebagai bukti nyata lemahnya komitmen pemerintah.
“Tiga kali kami turun ke jalan, tapi tidak pernah sekalipun ditemui. Ini bukan lagi soal aspirasi yang diabaikan, ini soal kepercayaan yang dihancurkan,” tegasnya.
Dalam aksinya, mahasiswa membawa tiga tuntutan utama: pemerataan pembangunan infrastruktur, kejelasan status tenaga PKKK paruh waktu, serta evaluasi Inspektorat dan Bapenda.
Namun, isu yang paling menyita perhatian adalah kondisi jalan rusak di Rura Pitontang. Mahasiswa menilai kerusakan tersebut bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan telah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga.
Menurut mereka, jalan tersebut bahkan telah memakan korban jiwa, berupa ibu hamil dan bayi dalam kandungannya.
“Ini bukan sekadar jalan rusak. Ini soal nyawa manusia. Tapi pemerintah seolah menutup mata,” kata Kaharudin.
Selain infrastruktur, massa juga menyoroti rendahnya gaji tenaga PKKK paruh waktu yang hanya sekitar Rp100.000, serta minimnya transparansi dari instansi pemerintah.
Tuntutan keterbukaan informasi yang sebelumnya telah disuarakan, disebut belum pernah mendapat respons yang jelas.
Sebagai bentuk protes, mahasiswa secara terbuka menyatakan mosi tidak percaya dan memastikan akan kembali menggelar aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar.
Sementara itu, Asisten I Setia Bakti menyampaikan bahwa pemerintah tetap menghargai setiap aspirasi yang disampaikan dalam kerangka demokrasi.
“Aspirasi mahasiswa kami tampung dan menjadi perhatian pemerintah daerah,” katanya.
Aksi berlangsung damai dengan pengawalan aparat TNI dan Polri. Massa akhirnya membubarkan diri secara tertib, namun dengan satu pesan kuat, perlawanan akan berlanjut hingga tuntutan mereka dipenuhi.
Reporter: SYAFRIZAL






Discussion about this post