INformasinasional.com, JAKARTA — Arsip bencana tak boleh berhenti sebagai tumpukan dokumen berdebu. Ia harus berfungsi sebagai alarm kolektif bangsa mengingatkan, mengajari, dan memaksa negara belajar dari luka yang sama. Itulah penekanan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) saat membuka Festival Memori Kolektif Bangsa (MKB) 2025 di Jakarta, Kamis.(18/12/2025).
“Arsip bencana bukan sekadar catatan peristiwa. Didalamnya tersimpan jejak keputusan, respons negara, hingga kegagalan dan keberhasilan penanganan krisis,” kata Kepala ANRI Mego Pinandito. Menurut dia, arsip adalah bahan baku kebijakan, bukan sekadar bahan pameran.
ANRI mencontohkan arsip tsunami Samudera Hindia 2004 di Aceh dan Nias. Peta, seismogram, foto, hingga video detik-detik bencana dirawat bersama BNPB dan BMKG. Bagi Mego, dokumen-dokumen itu adalah “buku teks” mitigasi, fondasi pengembangan sistem peringatan dini dan tata kelola kebencanaan, tak hanya untuk Indonesia, tapi juga dunia.
“Pemanfaatannya harus diperluas. Jangan eksklusif untuk arsiparis. Pembuat kebijakan, akademisi, hingga publik perlu mengaksesnya,” ujarnya. Nada yang sama menggarisbawahi pesan ANRI, tanpa ingatan yang dirawat, kebijakan berisiko mengulang kesalahan.
Sorotan ANRI juga diarahkan pada banjir bandang dan longsor yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Para ahli ANRI siap menghimpun dokumen bencana ekologis yang terjadi serentak pada 25 November lalu, bekerja sama lintas kementerian dan lembaga. Targetnya jelas, evaluasi respons darurat dan percepatan pemulihan berbasis bukti.
“Arsip bukan masa lalu yang beku. Ia sumber pengetahuan untuk menjawab tantangan masa depan,” kata Mego. Ia berharap kerja kolaboratif dengan BNPB dan BMKG mempercepat pemulihan Sumatera, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan nasional.
Festival MKB 2025 mengusung tema Merawat Ingatan, Menginspirasi Masa Depan. Diforum ini, ANRI menetapkan sejumlah arsip ke Register Memori Kolektif Bangsa dan menyerahkan sertifikat pengakuan atas nilai strategis arsip bagi sejarah dan identitas nasional. Diskusi publik mengulas arsip banjir Batavia, jejak perpindahan ibu kota, wawancara sejarah lisan tokoh Reformasi 1998, hingga transliterasi arsip VOC tertua.
Pesannya tegas, bila negara abai merawat ingatan, bencana akan kembali, bukan sebagai kejutan, melainkan sebagai pengulangan.(Misn’t/ant)






Discussion about this post