INformasinasional.com, LANGKAT — Skandal distribusi BBM subsidi kembali mencuat di Kabupaten Langkat. Kali ini, barcode BBM milik Ketua DPD AMPI Langkat diduga disalahgunakan, sementara petugas SPBU terkesan lepas tangan. Pertamina diminta turun tangan dan menindak tegas SPBU nakal yang diduga bermain dengan penimbun solar.
Peristiwa itu dialami Zaid Lubis, Ketua DPD AMPI Langkat, saat hendak mengisi BBM jenis Solar pada Kamis, 18 Desember 2025, sekitar pukul 16.55 WIB, di SPBU 14.208.181 Simpang Pasar 10 Tanjung Beringin, Kecamatan Hinai, Langkat.
Baru saja kembali dari Stabat, Zaid yang akrab disapa Bung Lubis berhenti di SPBU tersebut. Seperti prosedur biasa, ia menunjukkan barcode BBM kepada petugas. Namun jawaban yang diterima justru mengejutkan.
“Jatah Solar Bapak tinggal Rp57 ribu. Barcode ini baru saja dipakai isi BBM di SPBU lain,” kata petugas, sambil menunjuk arah ke Tanjung Pura.
Padahal, menurut Zaid, beberapa hari terakhir kendaraannya sama sekali tidak digunakan untuk pengisian BBM. Ia pun menolak tudingan itu dan meminta penjelasan. Namun petugas SPBU tetap bersikukuh menolak melayani pengisian.
Adu mulut tak terhindarkan. Antrean kendaraan pun mengular. Situasi memanas hingga akhirnya petugas menunjukkan data bahwa barcode milik Zaid tercatat melakukan pengisian di SPBU 13.208.xxx, yang berlokasi di Kampung Cempa, Hinai, SPBU yang bahkan tidak ia datangi.
Ironisnya, petugas SPBU Pasar 10 justru menyarankan korban untuk mengadu ke SPBU lain.
Setelah dikonfirmasi, Wakil Pengawas SPBU berinisial SNK mengakui adanya kejanggalan serius.
“Sesuai SOP, jika barcode tidak sesuai dengan nomor kendaraan, pengisian Solar tidak boleh dilakukan,” ujar SNK.
Namun ketika ditanya bagaimana barcode tersebut bisa tetap digunakan, SNK berdalih petugas yang bertugas saat itu telah berganti sif. Ia berjanji akan menegur petugas terkait dan meminta Zaid datang kembali keesokan harinya sebelum pukul 14.00 WIB untuk penyelesaian.
Bagi Zaid, penjelasan itu jauh dari memuaskan. “Saya jelas dirugikan. Data saya disalahgunakan. Saya menduga kuat ada permainan petugas SPBU dengan penimbun Solar,” tegasnya.
Ia menilai kasus ini bukan insiden tunggal, melainkan fenomena gunung es dibalik kelangkaan Solar subsidi di Langkat, terutama ditengah kondisi pascabencana yang justru menuntut distribusi BBM lebih ketat dan adil.
“Saya sudah ikut antre. Giliran saya, barcode saya malah dipakai orang lain. Ini tidak masuk akal. Saya akan buat Laporan Polisi,” katanya dengan nada geram.
Kasus ini menambah daftar panjang dugaan kebocoran BBM subsidi, sekaligus menguji komitmen Pertamina dan aparat penegak hukum dalam membersihkan praktik curang di SPBU. Publik kini menunggu: apakah SPBU nakal akan ditindak, atau kasus ini kembali tenggelam?* (Red)






Discussion about this post