INformasinasional.com, Panyabungan – Ditengah riuh rendah aktivitas tambang rakyat yang kerap memantik pro-kontra, satu pemandangan berbeda tersaji setiap Jumat di Desa Hutarimbaru, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal. Ratusan anak yatim berbaris rapi, menanti santunan dari seorang pengusaha tambang rakyat yang dikenal dengan nama Pawang Lubis.
Setiap Jumat, halaman rumahnya berubah menjadi ruang pengajian. Lantunan doa menggema, memohon kesehatan, keselamatan, dan kelancaran rezeki.
Disudut lain, amplop-amplop santunan berpindah tangan dari hasil keringat tambang rakyat kepada mereka yang kehilangan sandaran hidup. “Kita setiap Jumat melaksanakan pengajian dan doa agar diberikan kesehatan dan keselamatan, juga kelancaran rezeki. Apalagi ini sudah menjelang bulan Ramadan,” kata Ustadz Zainuddin, Jumat (13/2/2026).
Momentum menjelang Ramadan disebut menjadi alasan tambahan untuk memperluas berbagi. Bagi Pawang Lubis, keberlanjutan usaha tambang rakyat yang dikelolanya bukan semata soal produksi, tetapi juga tentang distribusi keberkahan. “Kita berharap kegiatan penambangan rakyat ini terus berlangsung agar kebersamaan serta bantuan rezeki bisa kita lanjutkan, bahkan ditingkatkan. Menjelang bulan penuh rahmat, sudah menjadi kewajiban kita membantu anak-anak yatim piatu,” katanya.
Diwilayah yang denyut ekonominya banyak bertumpu pada sektor informal seperti pertambangan rakyat, langkah ini menjadi penegas bahwa praktik usaha tak selalu identik dengan eksploitasi semata. Ada ruang sosial yang coba diisi meski tak lepas dari sorotan.
Ratusan anak yatim dari berbagai desa di Kecamatan Kotanopan kini menjadikan Jumat sebagai hari yang berbeda. Hari ketika doa dipanjatkan, tangan ditadahkan, dan santunan diterima. Diantara gemuruh mesin tambang dan debu tanah, mereka menemukan secuil harapan.
Laporan: Henri






Discussion about this post