INformasinasional.com, Bulukumba — Dibalik megahnya gedung DPRD Kabupaten Bulukumba, tersembunyi sebuah potret getir yang luput dari sorotan. Seorang pria bernama Ramli menjalani hidup dalam kondisi memprihatinkan, tanpa identitas resmi, tanpa akses layanan kesehatan, dan jauh dari kata layak.
Lorong sempit sepanjang kurang lebih 100 meter dibelakang kantor dewan itu menjadi jalan sunyi menuju tempat tinggalnya.
Diujung lorong, berdiri bangunan sederhana yang belum rampung, dinding kasar, lantai berdebu, dan atap seadanya. Tempat itu menjadi saksi bisu perjuangan Ramli selama lima tahun terakhir.
Tubuhnya tak lagi kuat seperti dulu. Geraknya terbatas, tenaganya kian menipis. Untuk beristirahat, ia hanya mengandalkan selembar sarung sebagai alas tidur dilantai yang dingin dan keras.
Tak ada kasur, tak ada bantal, hanya sunyi yang setia menemani malam-malam panjangnya.
Untuk bertahan hidup, Ramli menggunakan tungku sederhana dari kayu bakar yang dikumpulkan disekitar rumahnya.
Asap tipis yang mengepul dari dapur kecilnya menjadi tanda bahwa ia masih berjuang, meski dalam keterbatasan yang nyaris menelan harapan.
Namun, penderitaan Ramli tak hanya soal fisik dan ekonomi. Ia juga terjebak dalam “kemiskinan administratif”.
Hingga kini, Ramli tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) maupun Kartu Keluarga (KK). Ketiadaan dokumen tersebut membuatnya tak bisa mengakses layanan kesehatan maupun bantuan sosial dari pemerintah.
Kondisi memilukan ini pertama kali mencuat kepublik setelah seorang relawan kemanusiaan di Bulukumba, Andhika Mappasomba, mengunggah kisah Ramli melalui media sosial Facebook pada Kamis (2/4/2026).
Dalam unggahannya, Andhika menyebutkan bahwa keinginan Ramli sangat sederhana, bisa berobat, memulihkan kondisi tubuhnya, dan menjalani hidup yang lebih layak.
Ramli diketahui hidup sebatang kara. Kedua orang tuanya telah lama meninggal dunia. Ia pernah berumah tangga, namun tidak memiliki anak.
Sementara anggota keluarga lainnya kini tersebar diberbagai daerah, bahkan hingga keluar negeri seperti Malaysia.
Sesekali, tetangga atau kerabat datang menjenguk. Namun kehadiran itu belum cukup mengisi ruang sunyi yang mengendap dalam kesehariannya.
Akses air bersih pun menjadi tantangan tersendiri. Sumur milik tetangga yang sebelumnya dapat digunakan kini terasa “jauh” bukan karena jarak, melainkan karena keterbatasan tenaga yang dimilikinya.
Melihat kondisi tersebut, sejumlah relawan kemanusiaan di Bulukumba turun langsung melakukan visitasi. Mereka membawa bantuan pangan sekaligus memastikan kondisi Ramli secara langsung.
Lebih dari itu, mereka juga mengidentifikasi sejumlah kebutuhan mendesak yang diperlukan Ramli, diantaranya, Pengurusan administrasi kependudukan (KTP dan KK)
Perlengkapan tidur seperti kasur, bantal, dan tikar. Peralatan dapur (kompor, gas, dan perlengkapan memasak).Kebutuhan pangan harian.Alat kebersihan. Selang air untuk mempermudah akses air bersih
Kehadiran para relawan menjadi secercah cahaya ditengah gelapnya kehidupan Ramli. Sebuah pengingat bahwa ditengah kerasnya realitas, masih ada kepedulian yang tumbuh dan bergerak.
Kisah ini menjadi cermin bahwa dibalik pembangunan dan hiruk pikuk aktivitas kota, masih terdapat ruang-ruang sunyi yang belum tersentuh perhatian.
Diakhir unggahannya, Andhika turut membuka pintu bagi para dermawan yang ingin membantu meringankan beban Ramli. Sebuah doa pun ia sematkan, lirih, namun penuh harap, menggantung dilangit Bulukumba yang mulai temaram.
Bagi masyarakat yang ingin membantu, dapat menghubungi Relawan Kemanusiaan Bulukumba dinomor 0852-4249-6423.
Reporter: Sapriaris






Discussion about this post