INformasinasional.com, JAKARTA — Getaran belum benar-benar reda, tapi perintah sudah meluncur. Prabowo Subianto tak memberi ruang jeda. Dari pusat kekuasaan, ia menginstruksikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bergerak cepat mengevakuasi warga, menyisir korban, dan menahan potensi kepanikan yang bisa membesar sewaktu-waktu. Perintah itu disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Kamis (2/4/2026).
“Sejak pagi, Presiden sudah memerintahkan seluruh aparat dan tim BNPB untuk segera mengevakuasi warga terdampak,” katanya.
Instruksi itu bukan basa-basi. Kepala BNPB langsung diterbangkan ke Sulawesi Utara, epicentrum kepanikan.
Dilapangan, tim reaksi cepat BNPB, aparat TNI-Polri, dan pemerintah daerah bergerak simultan. Evakuasi dilakukan ditengah puing, retakan bangunan, dan kecemasan warga yang belum pulih. BNPB juga mengeluarkan peringatan keras, jangan kembali kebangunan yang terdampak. Risiko runtuh masih mengintai.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang perairan Bitung pada pagi hari menjadi pemantik kekacauan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan tsunami untuk wilayah Maluku Utara dan Sulut, suatu alarm yang cukup untuk membuat warga berhamburan menyelamatkan diri.
Meski gelombang yang terdeteksi relatif kecil 0,3 meter di Halmahera Barat dan 0,2 meter di Bitung, ancaman tidak serta-merta sirna. “Ini tetap harus diwaspadai,” kata Abdul Muhari dari BNPB.
Potensi gelombang susulan dan gempa lanjutan masih terbuka.
Hingga pukul 07.00 WIB, dua gempa susulan sudah tercatat, magnitudo 5,5 dan 5,2. Keduanya cukup untuk memperpanjang rasa cemas diwilayah pesisir. BNPB meminta warga menjauh dari pantai dan tidak kembali kezona rawan sebelum ada pernyataan resmi aman.
Kisah dilapangan menunjukkan betapa tipis jarak antara selamat dan celaka. Di Manado, seorang pedagang kaki lima, Siti Rohayati, 58 tahun, hanya punya satu pilihan saat bumi berguncang lari. “Saya tidak tahu harus berbuat apa. Yang penting selamatkan anak-anak,” katanya.
Di Ternate, Budi Nurgianto, 42 tahun, menggambarkan getaran yang terasa panjang dan menakutkan, cukup untuk membuat orang keluar rumah tanpa sempat menyelesaikan aktivitasnya.
Data awal menunjukkan satu korban jiwa akibat bangunan runtuh di Manado, serta satu orang mengalami luka. Angka yang kecil diatas kertas, namun menyimpan cerita besar tentang rapuhnya kesiapsiagaan diwilayah rawan gempa.
Laporan lembaga internasional memperkuat gambaran ancaman. Survei Geologi Amerika Serikat mencatat gempa terjadi pada kedalaman dangkal 35 kilometer, jenis gempa yang dikenal lebih merusak.
Sementara Pusat Peringatan Tsunami Pasifik sempat mengingatkan potensi gelombang berbahaya dalam radius 1.000 kilometer dari pusat gempa.
BMKG kemudian mencatat gelombang pasang disembilan titik di Maluku Utara, Sulawesi Utara, hingga Gorontalo. Di Minahasa Utara, tinggi gelombang mencapai 75 sentimeter, cukup untuk menegaskan bahwa ancaman itu nyata, bukan sekadar simulasi.
Kini, waktu menjadi lawan utama. Evakuasi harus lebih cepat dari gempa susulan. Informasi harus lebih akurat dari kabar liar. Dan negara, seperti yang diperintahkan Prabowo, dituntut hadir, bukan setelah semuanya usai, tetapi justru ketika segalanya masih genting.*
Editor: Misno






Discussion about this post