INformasinasional.com, Jakarta – Panggung polemik ijazah yang semula satu arah, kini berbalik tajam. Setelah berpisah jalan dengan Rismon Sianipar, Roy Suryo justru melontarkan peluru baru, mempertanyakan keabsahan ijazah S2 dan S3 mantan sekutunya itu.
Perpecahan dua tokoh yang sebelumnya berada dalam satu barisan pengkritik ijazah Joko Widodo ini berubah menjadi drama terbuka.
Rismon mundur, meminta maaf, dan mengakui ijazah Jokowi asli. Sementara Roy tetap berdiri pada posisinya, namun kini membidik balik.
“Saya juga sempat agak bertanya-tanya,” kata Roy, Senin (23/3/2026), merujuk pada gelar Doctor of Engineering (Dr. Eng) yang disematkan pada nama Rismon. Gelar itu, menurutnya, terasa janggal bila dikaitkan dengan kampus Jepang seperti Yamaguchi University.
Roy menilai, gelar Dr. Eng lebih lazim digunakan di Jerman, mengingat tradisi akademik yang juga melekat pada tokoh seperti B. J. Habibie. “Jarang Jepang menggunakan itu,” ujarnya, setengah ragu, setengah curiga.
Namun, keraguan itu awalnya ia tahan. Roy mengaku tidak ingin terburu-buru menilai. Sampai kemudian laporan resmi masuk ke Polda Metro Jaya.
Dititik itu, ia mengubah sikap.
Laporan tersebut menyeret Rismon dalam dugaan pemalsuan ijazah magister dan doktoral dari Yamaguchi University. Pelapor, yang berasal dari kubu relawan politik, mengklaim telah mengantongi bukti elektronik hingga keterangan dari pihak kampus.
Situasi kian panas setelah muncul kabar bahwa penyidik bahkan bergerak menelusuri langsung ke Jepang. Jika benar, ini bukan lagi sekadar perang opini, melainkan masuk kewilayah hukum yang serius.
Ditengah pusaran itu, Roy memilih posisi aman, tidak membela, tapi juga tak menyerang habis-habisan. “Saya tadinya tidak mau percaya begitu saja,” katanya. Namun laporan polisi, baginya, menjadi titik balik.
Hubungan keduanya kini retak. Momen permintaan maaf Rismon kepada Jokowi bahkan disertai upaya restorative justice menjadi garis pemisah yang tegas. Dari sekutu menjadi silang pendapat, dari satu suara menjadi dua kutub.
Ironisnya, polemik yang semula ditujukan kekepala negara kini berbalik keinternal barisan sendiri. Masyarakat disuguhi ironi, mereka yang dulu paling keras menggugat, kini saling menggugat.
Dan ditengah riuh itu, satu pertanyaan menggantung, siapa berikutnya yang akan disorot?*






Discussion about this post